Setelah hampir setahun tidak menampakkan diri, pertapa itu akhirnya muncul. Namun, ia tidak lagi menggangguku sambil tertawa atau muncul tiba-tiba. Ia datang sejak pagi, duduk diam di atas batu, kemudian berkata: "Serang."
Aku menyerang. Tidak ragu, tidak menahan, tidak juga melepaskan monster. Aku bergerak seperti air yang menemukan celah—kadang keras, kadang menelusuk, dan kadang menghindar. Sementara ia menangkis dengan tangan kosong, dengan kaki, punggung, tongkat anehnya, bahkan dengan diam.
Tiap kali aku hampir kehilangan kendali, ia justru mendekat. Tiap kali aku menahan diri terlalu keras, ia mendorongku jatuh. Sampai akhirnya tubuhku ambruk, napasku terengah, dan darah mengalir dari pelipis.
Ia menatapku lama. Anehnya tanpa tawa. "Kau sudah tidak bertarung untuk hidup," katanya pelan. "Dan juga tidak bertarung untuk mati."
Kemudian tongkat anehnya membawa lagi peti kayu yang masih kubawa ke mana-mana hingga sekarang, meski tak lagi kubaca karena aku sudah tahu semua isinya.
"Aku akan mencari tempat bertapa baru.”
Aku terdiam lalu berusaha bangun. Tidak ada pertanyaan kenapa yang bisa saja kuajukan. Mungkin jauh di lubuk terdalam, aku tahu saat ini pasti akan terjadi.
"Jangan mengikutiku," lanjutnya. "Tapi kau juga jangan tinggal di satu tempat. Jelajahilah seluk-beluk Rimba Pengasingan dengan pemahaman barumu yang sekarang. Baca semua penghuninya seperti kau membaca isi peti kayu itu."
Ia berdiri lalu menoleh ke sekeliling seperti sedang melihat keseluruhan Rimba Pengasingan sekaligus. "Jalanilah semua. Bertarunglah jika perlu. Lari jika perlu. Diam jika perlu."
Ia pun tersenyum ringan—bukan nakal atau mengejek. "Dan jangan percaya siapa pun yang bilang mereka punya jawaban."
Setelah itu, ia pergi seperti bayangan kabut yang akhirnya pudar tanpa jejak. Aku hanya terdiam menatap kepergiannya. Hening merajai dan aku masih kesulitan merasakan apa-apa.
Namun, kupikir aku tidak menyesali pertemuan-pertemuan aneh ini. Aku bersyukur, sepertinya. Pertapa aneh itu mengajariku banyak hal, meski relasi kami juga mungkin tidak bisa disebut guru dan murid.
Setelah hari itu, aku kembali berjalan tanpa tujuan yang jelas. Kadang mengikuti aliran sungai, kadang mengikuti arah angin, atau kadang hanya mengikuti naluri yang bahkan tidak kupahami sendiri. Mungkin aku hanya berusaha berjalan, karena diam di tempat hanya membuat kesesakan dalam kepalaku terus menjadi.
____
adakah doaku menua?
ayat-ayatku bebatuan retak
yang nyaris busuk di kedalaman laut
kosongku beredar ke kolom paling rawa
lumpur yang hinggap di lembah
lalu merebah tanpa pusara
untuk diterka sunyi
tapi aku masih berusaha
untuk tak melipur meskipun lebur
untuk tak melegam meskipun buram
ke jalanan di depan yang tak menjawab
musim pertanyaan
maka berikan aku malaikat
kala iblis di tubuhku merangkak
sampaikan padaku napas
saat perihku tenggelam ke palung lepas
tumbuhkan aku bunga
ketika badai itu tak kunjung reda