Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #1

Pecah Telur Ayam

Ana selalu tahu bahwa sebuah hubungan, seperti halnya sebutir telur ayam negeri, tidak butuh hantaman palu untuk hancur—cukup ketukan pelan di pinggiran wajan.

Klek.

Satu ketukan. Kulit telur cokelat itu retak, membelah diri menjadi garis-garis rambut yang rapuh sebelum cairan kental di dalamnya tumpah ruah ke dalam mangkuk plastik. Ana memperhatikan lendir bening dan kuning telur itu menyatu, lalu mulai mengocoknya dengan garpu karet yang ujungnya sudah agak meleleh. Bunyi dentang garpu beradu dengan dinding mangkuk plastik menjadi satu-satunya ritme di dapur belakang rumah subsidi mereka malam ini.

Pukul 18.30 WIB. Hawa panas Cikarang yang terserap atap asbes sejak siang hari seolah turun serentak, memerangkap udara di ruang dapur berukuran dua kali dua meter ini. Kulit leher Ana terasa lengket. Keringatnya keluar pelan, bercampur dengan uap tipis dari minyak goreng yang mulai mendidih di atas kompor gas satu tungku.

Lalu, terdengar bunyi yang sudah sangat diahafal di luar kepala.

Suara pagar besi mini yang digeser dengan decit berkarat. Suara standar samping sepeda motor matic yang diturunkan, disusul bunyi klik dari slot kunci pintu depan yang diputar.

Ernesto pulang.

Ana tidak menghentikan gerakan tangannya. Dia terus mengocok telur. Dia tidak perlu berbalik untuk tahu apa yang sedang terjadi di ruang tengah. Tanpa melihat pun, Ana bisa menyusun urutan aktivitas pria itu seperti membaca manual prosedur kerja pabrik: Nesto akan menaruh tas ransel hitamnya di atas kursi plastik meja makan, melepas sepatu safetynya yang berdebu jalur Cibarusah, lalu berjalan ke arah dapur dengan langkah kaki yang berat.

Lihat selengkapnya