Pukul 04.45 WIB. Belum ada matahari di langit Cibarusah, tetapi suara dengung mesin pompa air dari arah dapur sudah memecah sisa sepi malam. Bunyinya kasar, bergetar di atas dudukan semen yang retak, memaksa dinding batako rumah ikut bergetar halus.
Ana berdiri di depan bak mandi plastik berwarna biru pudar. Dia memperhatikan air yang keluar dari ujung selang—keruh, sedikit kekuningan, dan membawa aroma besi karat yang tajam khas air tanah pinggiran Bekasi. Air itu bergulung-gulung, menciptakan buih-buih putih tipis di permukaan bak yang dindingnya sudah mulai berlumut ringan.
Ana mencelupkan jemarinya. Dingin, tetapi terasa kesat dan lengket di kulit. Air ini tidak pernah benar-benar bersih, sama seperti sisa hari kemarin yang tidak pernah benar-benar selesai mereka basuh.
Di dalam kamar, bunyi alarm dari ponsel Ernesto mendadak memekik, disusul suara gesekan kasur busa saat pria itu membalikkan tubuhnya yang kaku.
Rutinitas subuh dimulai tanpa perlu dikomando. Mereka bergerak seperti sepasang buruh di ban berjalan pabrik: presisi, terjadwal, dan efisien. Nesto keluar dari kamar dengan mata yang masih merah dan rambut berantakan, hanya mengenakan celana pendek pudar tanpa kaus. Dia berjalan lurus ke arah kamar mandi, nyaris menabrak bahu Ana yang sedang mematikan sakelar pompa.
Tidak ada kata "permisi". Tidak ada sapaan "selamat pagi". Tubuh Nesto melesat masuk ke dalam bilik sempit itu, disusul bunyi selot pintu jalusi plastik yang berderit kencang.
Ana mundur satu langkah, bersandar pada pintu kulkas yang bergetar. Dia menunggu di luar. Mendengarkan bunyi gayung yang beradu dengan air kusam di dalam bak, disusul suara guyuran yang ritmis. Dahulu, bertahun-tahun lalu ketika rumah subsidi ini masih berbau cat baru dan harapan mereka belum kempes, antrean mandi subuh seperti ini adalah ruang untuk candaan kecil. Sentuhan kulit yang basah di ambang pintu kamar mandi bisa berakhir dengan tawa atau kecupan kilat yang tertinggal di pipi.