Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #4

Pajangan di Ruang Tamu

Pukul 10.00 WIB. Setelah kebisingan knalpot sepeda motor para tetangga yang berhamburan berangkat kerja mereda, perumahan subsidi itu mendadak kehilangan denyut utamanya. Matahari pagi yang terik mulai merayap naik, memanggang atap asbes tanpa ampun dan menembus kaca jendela depan rumah tipe 36/60 itu. Cahayanya yang tajam memamerkan miliaran partikel debu abu-abu yang melayang-layang pasrah di udara ruang tamu.

Ana berdiri diam di tengah ruangan yang berukuran dua kali tiga meter tersebut. Tangannya memegang sebuah kemoceng bulu ayam pudar yang sebagian helainya sudah rontok. Jam-jam seperti ini adalah waktu yang paling dibenci Ana dalam sehari—jam kosong di mana seluruh pekerjaan dapur usai, memaksanya berhadapan langsung dengan isi kepalanya sendiri.

“Sayuur! Sayuuurrr!”

Di luar gang, teriakan melengking dari tukang sayur keliling yang mendorong gerobaknya terdengar bersahut-sahutan dengan suara tawa lepas ibu-ibu blok depan yang sedang bergosip. Dinding batako rumah subsidi ini terlalu tipis, menyalurkan setiap desis kehidupan tetangga langsung ke telinga Ana. Namun, kebisingan di luar itu justru membuat interior rumahnya terasa seperti sebuah gua yang kedap dan mati rasa.

Ana mulai menggerakkan kemocengnya dengan kasar. Dia mengibaskannya ke permukaan sofa kain dua dudukan yang bagian tengahnya sudah amblas, lalu beralih ke meja tripleks berkaki besi yang langsung bergoyang kencang begitu tersenggol. Gerakan tangan Ana mendadak terhenti ketika ujung kemocengnya membentur sebuah benda di sudut rak bufet TV yang paling atas.

Sebuah bingkai foto kayu bercat hitam. Pajangan tunggal di ruang tamu mereka.

Ana melangkah mendekat, membiarkan kulit telapak kakinya merasakan kehangatan lantai keramik yang mulai panas. Dia mendongak, menatap lurus pada dua orang manusia yang terperangkap di balik kaca bingkai tersebut. Foto pernikahan mereka, lima tahun yang lalu.

Di dalam sekat kaca yang buram itu, seorang wanita muda mengenakan kebaya putih sederhana tampak tersenyum sangat lebar dengan mata yang berbinar-binar. Di sebelahnya, Ernesto—memakai jas sewaan yang sedikit kedodoran di bagian bahu—sedang merangkul pinggang wanita itu dengan cengkeraman jemari yang erat, tertawa lepas memamerkan deretan giginya yang rapi tanpa beban.

Lihat selengkapnya