Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #5

Belanja di Warung Kelontong

Langkah kaki Ana di atas permukaan aspal gang perumahan terasa beralas berat. Hawa panas Cibarusah menjelang siang hari itu seolah memiliki berat, menempel lekat di kulit tengkuk dan membuat daster batik soga yang dikenakannya terasa lembap mengisap keringat. Di kanan-kiri gang, deretan rumah tipe 36 dengan renovasi pagar besi seadanya berdiri rapat tanpa jarak. Rumah-rumah itu dipisahkan oleh saluran selokan semen selebar setengah meter yang airnya hitam menggenang pekat, sesekali menguapkan aroma busuk sisa detergen cucian yang mengendap berhari-hari.

Di dalam kantong dasternya, jemari Ana meremas selembar uang dua puluh ribu rupiah. Kertas uang itu sudah begitu lecek, tipis, dan membawa bau amis khas belanjaan pasar. Ana menekannya kuat-kuat dengan ibu jari, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa tenaga batinnya ke sana.

Tujuan Ana adalah warung kelontong milik Bu Lastri yang terletak tepat di bawah pohon ceri ujung blok. Warung itu bertindak sebagai pusat gravitasi tak resmi bagi ibu-ibu kompleks perumahan. Di bawah naungan atap terpal biru yang beberapa sudutnya sudah robek dan ditambal lakban, warung tersebut memamerkan rentengan saset kopi hitam, rentengan detergen, serta deretan wadah plastik berisi sayuran sisa subuh yang mulai layu dikerubuti lalat buah.

Ketika Ana melangkah masuk ke bawah bayangan terpal, suasana di sana sedang bising oleh suara melengking. Ada Bu Lastri yang tengah sibuk memilah cabai keriting, dan dua orang ibu dari Blok C yang sedang asyik membolak-balik ikat kangkung. Salah satunya adalah Meta, seorang pengantin baru yang baru dua bulan ikut suaminya pindah ke kompleks ini.

“Iya, Bu Lastri, Mas Dani tuh kalau pagi manja banget,” cetus Meta sambil tertawa kecil, matanya melekat pada layar ponsel yang memamerkan ruang obrolan WhatsApp. “Kalau sarapan maunya buru-buru dibuatkan teh hangat dulu. Kalau enggak ada, bisa cemberut sepanjang jalan ke pabrik. Repot, tapi ya namanya juga baru nikah, ya?”

Ibu di sebelahnya menyenggol lengan Meta sambil ikut terkekeh, menciptakan atmosfer domestik yang penuh keintiman yang renyah.

Ana berdiri diam di sudut terluar meja warung, sengaja membiarkan jarak fisik satu meter membentang di antara dirinya dan kerumunan itu. Tanpa sadar, jemari Ana di dalam kantong daster meremas uang dua puluh ribu itu semakin kencang, menggulungnya hingga menjadi bulatan kecil yang padat. Obrolan tentang kemanjaan pagi hari, tentang teh hangat yang dituntut sebelum kerja, terasa seperti jarum halus yang menusuk langsung ke telinganya. Di rumahnya sendiri, subuh tadi dihabiskan dengan keheningan mekanis; Ernesto melesat ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun, dan dia hanya menatap jejak kaki basah di lantai.

“Eh, Bu Ana,” tegur Bu Lastri, mendadak memutus lamunan Ana. Matanya beralih dari timbangan kodok kuno ke wajah kusam Ana. “Mau nyari sayur apa, Bu? Sayur sop tinggal sisa satu bungkus nih di pojok, agak layu batangnya tapi masih lumayan kalau langsung ditumis.”

Lihat selengkapnya