Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #6

Makan Malam yang Mati

Malam Minggu pukul 20.00 WIB tidak pernah membawa perbedaan atmosfer di perumahan subsidi Cibarusah. Di luar, suara deru knalpot motor milik remaja kompleks yang hendak keluar malam bersahut-sahutan dengan bunyi klakson pedagang martabak keliling. Namun, begitu melewati pintu depan rumah tipe 36/60 itu, seluruh keriuhan urban pinggiran tersebut mendadak mengendap, terserap oleh dinding batako tipis yang memancarkan sisa panas matahari siang tadi.

Ana meletakkan piring plastik berwarna biru pudar di atas meja makan tripleks dengan hentakan yang sedikit lebih keras dari biasanya. Prak. Bunyi itu sengaja dia ciptakan untuk memecah keheningan, tetapi gema yang dihasilkan langsung lenyap begitu saja, kalah oleh suara dengung TV tabung empat belas inci di ruang tengah yang menampilkan siaran berita dengan volume minimal.

Di atas piring itu, menu yang sama kembali digelar: gundukan nasi putih yang mulai mengering di bagian tepi, ditemani sepotong telur dadar dengan irisan cabai sisa kemarin.

Ernesto duduk di seberang meja, hanya mengenakan kaos dalam putih yang jaluran jahitannya sudah melar di bagian leher dan celana pendek kain. Kulit lengannya yang legam oleh sengatan matahari pabrik tampak berkilat oleh lapisan tipis keringat. Tanpa menunggu isyarat atau sepatah kata sapaan, tangan kanan Nesto yang kasar langsung meraih sendok aluminium. Dia mulai memotong telur dadar itu menjadi bagian-bagian kecil yang presisi, lalu menyuapkannya ke dalam mulut bersama seonggok nasi.

Ana tidak langsung menyentuh sendoknya. Dia duduk dengan punggung tegak, melipat kedua tangannya di atas perut, lalu memperhatikan bagaimana rahang suaminya bergerak naik-turun. Gerakan mengunyah itu begitu ajek, ritmis, dan mekanis. Nesto makan bukan seperti seorang manusia yang sedang menikmati jerih payah masakan istrinya, melainkan seperti sebuah mesin produksi di pabrik yang sedang diisi bahan bakar agar tidak mogok keesokan harinya.

Ting. Sret.

Bunyi ujung sendok aluminium yang bergesekan dengan dasar piring plastik berulang setiap tujuh detik. Ana menghitungnya di dalam kepala.

“Bonus akhir tahun dari vendor logistik kemungkinan cair bulan depan,” ucap Nesto tiba-tiba, memutus kesunyian tanpa mengalihkan pandangannya dari piring. Suaranya terdengar serak, berat, dan datar.

Lihat selengkapnya