Pukul 08.00 WIB, Minggu pagi. Hawa Cikarang sudah kehilangan kesejukannya sejak sejam lalu, digantikan oleh sengatan terik prematur yang membuat aspal gang perumahan mulai menguapkan bau bensin dan debu kering. Di depan rumah, suara deru air dari selang yang tersambung ke keran luar terdengar ritmis, disusul bunyi sikat plastik yang menggosok permukaan logam dengan bertenaga.
Ana berdiri di balik kaca jendela ruang tamu yang buram. Jari-jarinya yang kurus menyibak sedikit ujung gorden kain potong kiloan berwarna cokelat kusam yang sudah mulai rapuh seratnya. Dari celah selebar dua jari itu, matanya menatap lurus ke arah halaman depan yang sempit.
Ernesto sedang berjongkok di samping sepeda motor matic hitamnya. Pria itu hanya mengenakan celana pendek pudar, membiarkan punggungnya yang lebar terekspos langsung pada sengatan matahari pagi hingga kulitnya tampak berkilat oleh peluh.
Ana memperhatikan setiap jengkal pergerakan suaminya dengan tatapan yang dingin. Nesto sedang mencuci motor, sebuah aktivitas yang sudah menjadi ritual wajib dan sakral baginya setiap hari Minggu pagi. Namun, cara pria itu memperlakukan mesin beroda dua tersebut mendadak memicu sesuatu yang bergolak di dalam dada Ana.
Nesto bekerja dengan ketelatenan yang luar biasa—sejenis perhatian penuh yang sudah bertahun-tahun lenyap dari dalam rumah mereka.
Dengan jemari tangannya yang besar dan kasar, Nesto meraba lekukan bodi plastik motor itu, mengusapnya lembut dengan busa bersabun seolah sedang menyentuh permukaan yang paling berharga di dunia. Dia membungkuk rendah, mendekatkan wajahnya ke arah mesin bawah, matanya menyipit dengan fokus yang tajam demi memburu noda oli atau cipratan lumpur sekecil apa pun yang menempel di sela-sela gir. Ketika menemukan setitik kotoran yang membandel di dekat rantai, Nesto tidak mendengus kesal. Dia justru mengambil sikat gigi bekas, menuangkan sedikit minyak tanah, lalu menggosok bagian itu dengan sabar, perlahan, hingga logam di bawahnya kembali bersih mengilat.
Ana merasakan jemarinya yang memegang gorden bergetar halus. Sisi sinis di kepalanya mendadak bekerja, meletupkan rasa cemburu yang aneh, tumpul, sekaligus menghina dirinya sendiri.
Dia cemburu pada sebuah mesin mati beroda dua.