Pukul 21.00 WIB. Malam di kompleks perumahan subsidi Cibarusah jarang sekali menyajikan ketenangan yang mutlak, tetapi malam ini, atmosfernya terasa jauh lebih pekat dan menekan. Angin luar yang berembus masuk lewat celah ventilasi di atas pintu depan membawa hawa kering yang mengendap di permukaan kulit. Di luar, suara jangkrik sawah pinggiran Bekasi sesekali kalah oleh raungan knalpot motor yang melintas jauh di jalan raya utama. Namun, semua kebisingan alam dan urban itu mendadak diredam oleh satu drama domestik yang terjadi tepat di balik dinding rumah mereka.
Prang!
Suara benda berbahan kaca atau keramik hancur berkeping-keping menghantam lantai terdengar begitu nyaring. Getarannya merambat melalui pori-pori batako tanpa plester tebal yang memisahkan rumah Ana dengan kediaman keluarga sersan di sebelah kiri mereka.
"Kamu itu tidak pernah mikir ya! Uang belanja segitu mana cukup buat anak dua sekolah!" Sebuah lengkingan suara perempuan melesat menembus sekat rumah. Suaranya pecah, sarat dengan urat leher yang menegang karena amarah yang memuncak.
Tak butuh waktu lama bagi dinding tipis itu untuk menyalurkan jawaban dari sang suami. Sebuah hantaman keras—kemungkinan besar kepalan tangan atau tendangan kaki pada pintu kayu—membuat bingkai cermin kecil di ruang tamu Ana ikut bergetar halus. "Lu pikir nyari duit lemburan di pabrik gampang?! Capek gua, tiap pulang selalu didebat begini!"
Ana duduk di sudut sofa kain yang busanya sudah amblas. Tangannya diam di atas pangkuan, dengan jemari tangan kanan yang masih dilapisi salep tipis untuk meredakan luka melepuh akibat cipratan minyak panas tadi pagi. Matanya tidak tertuju pada dinding yang sedang bergetar itu, melainkan lurus menatap punggung Ernesto.
Nesto berada dua meter di depannya. Pria itu duduk di atas kursi plastik tanpa sandaran, menghadap langsung ke layar TV tabung empat belas inci yang sedang menyiarkan tayangan ulang pertandingan sepak bola lokal. Volume TV itu disetel sangat rendah, berada di tingkat tiga—sebuah volume yang nyaris menyerupai bisikan di tengah riuh rendahnya pertengkaran dari rumah sebelah.
Brak! Dug!
Suara makian, tangisan anak kecil yang ketakutan, dan gesekan perabotan yang digeser kasar kembali terdengar dari balik dinding. Tetangga mereka sedang menguliti keburukan satu sama lain tanpa sensor, memamerkan seluruh isi perut rumah tangga mereka kepada siapa saja yang memiliki telinga di radius sepuluh meter.
Di dalam kotak beton tipe 36 milik Ana, situasinya justru berkebalikan secara ekstrem.