Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #10

Sisa Minyak Jelantah

Senin subuh, pukul 04.30 WIB. Udara di dalam kamar tidur perumahan subsidi Cibarusah tidak pernah benar-benar melepaskan sisa hawa panas yang diserap atap asbes sejak siang kemarin. Kegelapan di luar jendela belum sepenuhnya luruh, namun dinding-dinding batako tipis berukuran tebal lima sentimeter itu sudah mulai menyalurkan getaran dari alarm ponsel para tetangga yang bersahut-sahutan. Bunyi dering standar yang monoton itu menembus sekat-sekat rumah yang rapat, memecah sisa malam yang pendek, dan memaksa seluruh gang perumahan untuk kembali terjaga dalam ritme yang sama.

Di dalam keremangan ruang tengah, suara selot pintu kamar mandi terbuka dengan bunyi berderit yang kesat karena karat pada engselnya. Ernesto melangkah keluar dari dalam kotak semen pengap itu dengan sisa air dingin yang masih menetes dari ujung-ujung rambutnya yang dicukur pendek. Langkah kaki itu diseret secara mekanis di atas lantai keramik putih yang terasa dingin menembus kulit. Pria itu tidak mengenakan handuk di bahunya; dia sudah langsung berpakaian lengkap, mengenakan seragam buruh pabriknya yang berwarna abu-abu kusam. Kemeja kerja itu berbahan serat kaku yang tebal, dengan bordiran logo perusahaan logistik di dada kanan yang benang-benangnya sudah mulai brudul dan lepas di beberapa sudut akibat terlalu sering digilas di papan cucian.

Nesto berjalan melewati ruang tengah tanpa menoleh sedikit pun ke kiri maupun ke kanan. Pandangan matanya lurus, kaku, dan kosong, menyerupai sorot lampu kendaraan di jalur cepat yang tidak memiliki ketertarikan pada pemandangan di pinggir jalan. Pria itu meraih tas ransel hitamnya yang tergeletak di atas sofa kain yang busanya sudah amblas membentuk cekungan dalam. Dengan satu gerakan tangan yang teratur dan terlatih oleh waktu bertahun-tahun, dia menyampirkan tali tas itu ke bahu kanan yang tampak turun menahan beban kelelahan yang permanen.

Tidak ada kalimat pamit yang diucapkan. Tidak ada kata “Aku berangkat,” tidak ada kecupan di kening, bahkan tidak ada lirikan mata sekilas untuk memastikan apakah istrinya membutuhkan sesuatu sebelum pintu depan dibuka. Seluruh prosedur domestik subuh ini telah dirancang begitu kaku dan presisi oleh kebiasaan, hingga setiap tindakan Nesto bergerak layaknya komponen mesin pabrik yang sedang menyelesaikan satu siklus produksi tanpa perlu berpikir lagi.

Klek. Cklek.

Lihat selengkapnya