Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #11

Air Tanah yang Berhenti Mengalir

Pukul 16.30 WIB. Udara di dapur belakang rumah tipe 36/60 itu terasa seperti memerangkap hawa tungku pembakaran besi. Hawa panas dari atap asbes bersekongkol dengan tiadanya embusan angin di celah dinding belakang. Senter kecil berwarna kuning diletakkan di atas lantai keramik yang berdebu, menyorot langsung ke arah lubang sumur pompa air di sudut ruangan yang sempit.

Sejak pukul dua siang, tidak ada setetes pun air yang keluar dari keran logam di wastafel. Mesin pompa air yang tertanam di sudut dapur hanya mengeluarkan bunyi dengung pendek yang kering, disusul suara klek sakelar otomatis yang memutus daya karena mesin terlalu panas. Permukaan air tanah Cibarusah telah surut drastis dihantam kemarau Cikarang yang panjang, meninggalkan pipa paralon yang menganga kering di dalam perut bumi.

Ernesto berjongkok di celah sempit antara konter keramik dan mesin pompa. Pria itu bertelanjang dada, menyisakan celana panjang seragam buruh pabriknya yang abu-abu kusam, penuh noda tanah kering di bagian lutut. Punggungnya yang lebar menempel pada dinding semen yang kasar, menyerap dinginnya batako tipis yang mulai ikut memanas oleh hawa sore. Keringat tebal mengucur deras dari sela-sela rambutnya yang dipotong cepak, meleleh melewati tengkuk, lalu membelah lapisan debu hitam yang menempel di sepanjang tulang belikatnya.

Tangan kanan Nesto yang legam memegang kunci inggris berkarat. Jemarinya yang dipenuhi noda pelumas hitam pekat sedang berupaya melonggarkan baut penutup tabung pancingan pompa air. Setiap kali lengannya bergerak menekan kunci besi itu, otot-otot lengannya menegang kaku, mengeluarkan bau kecut keringat buruh pabrik yang khas—campuran aroma detergen murah, debu jalanan proyek, dan asam tubuh yang kelelahan.

Ana berdiri hanya satu langkah di belakang suaminya. Ruang dapur berukuran dua kali dua meter itu terlalu sempit untuk menampung dua tubuh manusia dewasa bersama satu mesin pompa yang sedang dibongkar. Ana memegang sebotol air mineral ukuran besar yang hanya terisi sepertiga—sisa air bersih terakhir yang mereka miliki di dalam rumah. Tugasnya adalah menuangkan air itu sedikit demi sedikit ke dalam lubang pancingan begitu Nesto berhasil membuka sumbatnya.

Nesto tidak meminta air itu dengan kata-kata. Dia hanya menjulurkan telapak tangannya yang kotor ke belakang, tanpa menoleh. Ana melangkah maju, memiringkan botol plastik di tangannya, lalu mengalirkan cairan bening itu ke dalam lubang besi pompa yang berkarat.

Glug, glug, glug.

Lihat selengkapnya