Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #12

Pertanyaan Lewat Speaker Ponsel

Pukul 12.15 WIB. Hari Minggu siang di perumahan subsidi Cibarusah selalu ditandai dengan matahari yang terasa begitu dekat, membakar deretan atap spandek dan asbes hingga memancarkan bau aspal gosong ke udara. Di dalam ruang tengah berukuran dua kali tiga meter yang merangkap sebagai ruang tamu, kipas angin dinding berputar dengan kecepatan penuh, tetapi hanya mampu memindahkan udara gerah bercampur debu halus dari luar.

Ernesto duduk selonjoran di atas sofa kain yang busanya sudah amblas membentuk cekungan dalam. Dia hanya mengenakan celana pendek hitam berlogo pudar dan kaus singlet putih yang mulai menguning di bagian kerah. Jempol kanannya bergerak dengan ritme yang konstan, mengusap layar gawai yang memantulkan cahaya biru di wajahnya yang kusam. Pria itu sedang menonton video potongan pertandingan sepak bola tanpa suara.

Di seberang ruangan, Ana sedang duduk di lantai keramik yang terasa sedikit hangat, melipat tumpukan pakaian yang baru kering. Bau pewangi pakaian murah yang pekat dan menusuk hidung menguap di antara mereka, beradu dengan aroma pengap ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Tidak ada percakapan. Hanya ada suara gesekan kain katun yang dilipat Ana dan desis statis dari kipas angin yang berputar kaku.

Drrrtt... Drrrtt...

Gawai Ernesto yang diletakkan di atas meja tripleks kecil di samping sofa bergetar hebat, memutar nada dering bawaan pabrik yang nyaring dan cempreng. Layarnya berkedip menampilkan nama pemanggil: Ibu.

Nesto tidak langsung mengangkatnya. Dia membiarkan gawai itu bergetar selama beberapa detik, memperhatikan layarnya dengan tatapan datar seolah sedang menimbang-nimbang sebuah instruksi kerja yang menjemukan. Setelah getaran ketujuh, dia akhirnya menjulurkan tangan, menggeser tombol hijau, lalu menekan ikon pengeras suara. Pria itu meletakkan kembali gawai tersebut di atas meja dengan posisi layar menghadap ke atas, sementara tangannya kembali meraih gawai satu lagi untuk melanjutkan tontonannya yang sempat tertunda.

"Halo, Nesto? Ini Ibu," suara dari seberang telepon langsung memenuhi ruangan tengah yang sempit, terdengar nyaring dan pecah karena kualitas speaker gawai yang sudah menurun. Itu adalah suara ibu kandung Ernesto.

"Iya, Bu. Ada apa?" jawab Nesto pendek. Matanya sama sekali tidak beralih dari layar gawai di tangannya.

"Kamu lagi di rumah? Kok sepi sekali? Suara TV-nya mana? Biasanya kalau hari Minggu begini ramai suara motor atau tetangga," cecar suara di seberang sana, terdengar penuh selidik khas orang tua yang terbiasa hidup di kampung halaman yang riuh.

Lihat selengkapnya