Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #13

Kipas Angin yang Berdecit

Pukul 20.00 WIB. Kegelapan di luar rumah telah turun sepenuhnya, namun dinding batako perumahan subsidi itu masih memancarkan sisa kalor yang tersimpan sejak siang hari. Suasana malam terasa teramat gerah, seolah-olah seluruh pasokan oksigen di dalam rumah tipe 36/60 itu telah menguap habis. Di ruang makan yang menyatu langsung dengan dapur sempit, sebuah kipas angin dinding bermerek lokal yang bilah plastiknya mulai berdebu tebal berputar dengan ritme yang tersendat-sendat.

Krieeet... ckiut... krieeet... ckiut...

Setiap kali kepala kipas angin itu bergerak menoleh ke kiri dan ke kanan, poros besinya yang kering mengeluarkan bunyi berdecit yang nyaring dan konstan. Bunyi itu tajam, menggesek gendang telinga, dan bergaung di antara dinding-dinding semen yang sempit.

Di atas meja makan tripleks, sebuah piring plastik berisi telur dadar hangat telah disajikan. Malam ini, Ana tidak membuat telur dadar yang super asin, melainkan mencampurnya dengan rajangan tiga buah cabai rawit merah sisa kemarin yang dia temukan di sudut rak kulkas satu pintu mereka. Kulit cabai-cabai itu sudah mulai layu, mengerut, dan mengering di beberapa bagian—sebuah sisa sayuran yang seharusnya dibuang, namun sengaja diolah Ana karena kehabisan bahan makanan segar. Beberapa potongan cabai yang layu itu tampak menyembul di antara permukaan telur yang berminyak, berwarna merah pudar dan kusam.

Ernesto sudah duduk di kursinya, berhadapan langsung dengan Ana di bawah pendaran lampu dapur yang kuning suram. Seperti biasa, dia langsung mengambil potongan telur itu dengan sendok aluminiumnya, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu menyuapkannya bersama nasi dingin.

Ana memperhatikan suaminya menyuap makanan dengan gerakan yang ritmis. Bersamaan dengan itu, bunyi decit kipas angin di dinding terus terdengar tanpa jeda.

Krieeet... ckiut...

Lihat selengkapnya