Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #14

Shift Malam yang Membelah Waktu

Pukul 05.30 WIB. Bunyi alarm dari gawai Ana di atas lantai keramik bergetar pendek, teredam oleh tumpukan kain daster yang belum disetrika. Ana membuka mata, langsung disambut oleh langit-langit asbes yang mulai memancarkan warna abu-abu kusam, tanda bahwa fajar telah pecah di langit timur Cibarusah. Udara pagi itu dingin yang kering, tidak menyegarkan, melainkan membawa bau debu sisa pembakaran limbah malam hari yang menyusup lewat lubang angin di atas pintu.

Di sebelahnya, sisi kasur busa yang lebar itu kosong. Namun, sprei katun bergambar bunga-bunga yang warnanya sudah memudar itu masih terasa hangat jika disentuh dengan telapak tangan. Ada lekukan tubuh yang dalam di sana, meninggalkan pola melingkar pada kain yang kusut, bersama dengan bau samar pelumas mesin bercampur minyak rambut murah yang menempel di sarung bantal.

Ernesto tidak ada di kamar. Dia sedang berada di luar, entah di mana, menempuh perjalanan pulang sepanjang tiga puluh kilometer dari kawasan industri GIIC dengan motor matic-nya. Dua minggu ini, jadwal kerjanya dipindahkan ke shift tiga—pukul sepuluh malam hingga pukul enam pagi.

Ana bangkit, melipat selimut tipisnya, lalu melangkah ke dapur. Dia tidak menyalakan lampu neon lima watt yang sudah berkedip sekarat. Dalam keremangan subuh, dia mengisi panci aluminium kecil dengan air keran yang berbau besi keruh, lalu meletakkannya di atas kompor gas satu tungku.

Trek.

Api biru menyala, menjilat pantat panci yang hitam penuh jelaga. Saat air mulai memunculkan gelembung-gelembung kecil di dinding logam, suara deru knalpot motor matic yang familier terdengar melemah di ujung gang, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras semen yang sempit.

Suara standar dua motor diturunkan, menumbuk semen dengan bunyi bletak yang berat. Selot pintu depan bergeser kaku.

Ernesto melangkah masuk. Dia tidak melepaskan sepatu bot kerjanya yang bermoncong besi di teras; dia menyeret kakinya yang dibungkus kaos kaki hitam tebal yang sudah berlubang di bagian tumit, meninggalkan jejak tanah kering yang kusam di atas keramik ruang tengah. Jaket parasut hitamnya yang penuh noda minyak industri tergantung kuyu di pundaknya yang membungkuk.

Nesto berjalan melewati dapur tanpa menoleh ke arah Ana yang sedang berdiri di dekat kompor. Matanya merah, dengan lingkaran hitam yang tebal dan berkerut di bawah kelopaknya. Bibirnya pecah-pecah, kotor oleh sisa debu jalanan yang menempel sepanjang jalur pantura Cikarang. Dia langsung menuju kamar mandi.

Lihat selengkapnya