Pukul 15.30 WIB. Langit di atas perumahan subsidi Cibarusah mendadak berganti warna menjadi abu-abu pekat, menyerupai warna lantai pabrik yang kotor oleh tumpahan oli industri. Angin kencang bertiup kencang, membawa aroma tanah kering yang terbakar, debu belerang, dan bau sampah basah dari selokan kompleks yang mampet. Beberapa detik kemudian, tetesan air hujan sebesar biji jagung mulai menghantam atap asbes tanpa eternit dengan bunyi berderak yang memekakkan telinga.
Di dalam ruang tamu berukuran dua kali tiga meter, gemuruh air di atas kepala membuat getaran halus pada bingkai foto pernikahan mereka yang kacanya sudah kusam oleh debu semen yang menempel bertahun-tahun. Ana duduk berlutut di dekat meja tripleks kecil. Pandangannya tidak terarah pada tumpukan kain yang sedang dilipatnya, melainkan pada sudut pertemuan antara dinding batako dan langit-langit asbes di sudut ruangan.
Dinding batako setebal lima sentimeter itu tidak mampu menahan tekanan air dari luar yang menghantam dinding tanpa plester di gang sebelah. Perlahan, sekerat noda basah berwarna kuning kecokelatan muncul di permukaan cat tembok putih yang mulai berkapur. Noda itu merambat turun seperti minyak yang tumpah, membentuk lekukan-lekukan tidak teratur yang menyerupai peta dari wilayah yang tidak dikenal. Bau lembap semen yang lapuk bercampur aroma kapur basah segera memenuhi ruangan, menusuk hidung dan membuat tenggorokan terasa gatal.
Ernesto sedang duduk di lantai semen di seberang ruangan, bersandar pada kaki sofa yang amblas. Dia baru saja bangun dari tidurnya setelah menyelesaikan giliran kerja shift malam. Kedua lututnya ditekuk ke atas, menyisakan kaus singlet putih kusam yang membungkus tubuh tegapnya. Tangannya memegang sebuah gunting kuku kecil dari besi yang sudah berkarat di bagian engselnya. Dengan kepala menunduk, dia memotong kuku jempol kakinya yang tebal dan menghitam di sudut-sudutnya akibat sisa oli pabrik yang sulit dibersihkan dengan sabun biasa.
Bunyi klik pendek dari gunting kuku itu sesekali terdengar di sela-sela gemuruh hujan yang menghantam atap asbes.
Ana tidak bersuara. Dia bangkit dari lipatan lututnya, melangkah perlahan mendekati dinding yang merembes. Telapak tangan kanannya ditempelkan tepat di tengah-tengah noda kuning yang basah dan terasa dingin itu. Kulit tangannya langsung merasakan sensasi basah yang kaku dari semen yang mulai melunak. Kapur tembok yang hancur karena air menempel di ujung-ujung jarinya seperti bedak kotor berwarna abu-abu.