Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #16

Amplop Gaji dan Kalkulator di Meja Makan

Pukul 20.30 WIB. Malam setelah tanggal dua puluh lima selalu membawa atmosfer yang berbeda di atas meja makan tripleks perumahan subsidi Cibarusah. Udara malam itu masih terasa pekat oleh sisa hawa panas siang hari, namun keheningan di dalam dapur terasa lebih berat dari biasanya. Di atas meja, berdampingan dengan piring plastik berisi telur dadar harian yang pinggirannya sedikit kecokelatan, sebuah amplop kertas cokelat tergeletak kaku.

Amplop itu agak lecek di bagian sudutnya, dengan cetakan logo bank swasta tempat perusahaan logistik Ernesto menyalurkan upah bulanannya. Ernesto duduk dengan punggung tegak, masih mengenakan celana panjang seragam abu-abunya. Dia meraih kalkulator saku berwarna hitam dengan layar digital yang beberapa garis angkanya sudah putus-putus karena usia.

Nesto meletakkan kalkulator itu tepat di tengah meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan lima puluh ribuan dari dalam amplop cokelat. Uang-uang kertas itu ditata dengan rapi, menghadap ke arah yang sama, dikelompokkan berdasarkan warna dan nilai nominalnya. Jemari Ernesto yang kasar dan masih menyisakan garis hitam oli di bawah kuku mulai menekan tombol-tombol karet kalkulator dengan bunyi tup... tup... tup... yang ritmis.

"Cicilan rumah," kata Nesto datar.

Dia menggeser seonggok uang ratusan ribu ke sisi kiri meja. Angka di layar kalkulator berkurang.

"Satu juta seratus," sahut Ana pendek.

Lihat selengkapnya