Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #17

Langkah Kaki di Gang Sempit

Pukul 17.00 WIB. Langit di atas langit perumahan subsidi Cibarusah menggantung rendah dengan warna kuning tembaga bercampur abu-abu polusi. Hawa gerah sisa siang hari belum sepenuhnya enyah, menyatu dengan bau asap pembakaran sampah plastik dari tanah kosong di belakang kompleks. Ana melangkah keluar dari pintu depan rumahnya yang berderit kaku, tangan kanannya mencengkeram erat kantong plastik hitam besar berbau masam yang berisi sisa kupasan bawang, remahan telur dadar yang membusuk, dan pembalut sekali pakai yang dibungkus kertas koran.

Dia harus berjalan kaki menuju bak sampah utama yang terletak di ujung gang, sekitar dua ratus meter dari rumahnya. Gang perumahan itu lebarnya tidak lebih dari tiga meter, sebuah jalan semen yang kini telah pecah-pelan di beberapa bagian hingga menyembul tanah merah di bawahnya. Sore hari adalah waktu di mana gang sempit ini kehilangan fungsinya sebagai fasilitas umum dan berubah menjadi ruang pameran kekacauan domestik yang intim.

Ana melangkah lambat, menyeret sandal jepit karetnya yang menipis di bagian tumit. Pandangannya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati deretan rumah subsidi tipe 36 yang berjejer rapat tanpa celah, dipisahkan hanya oleh satu garis batako setebal lima sentimeter. Struktur asli rumah-rumah itu telah mengalami distorsi, dipaksa melebar dan menonjol keluar oleh kebutuhan penghuninya yang kekurangan ruang.

Di rumah pertama yang dilewatinya, tiang jemuran aluminium berwarna perak sengaja dimajukan hingga memakan sepertiga badan jalan semen. Di atasnya, barisan celana dalam anak-anak yang pudar warnanya, kemeja seragam pabrik yang kaku, dan daster-daster robek bergelantungan rendah, bergoyang kuyu ditiup angin sore yang berdebu. Ana harus sedikit menundukkan kepala agar rambutnya tidak menyenggol keliman celana jeans basah yang digantung terbalik. Bau detergen murahan yang menyengat beradu dengan aroma selokan pembuangan di bawah kakinya, menciptakan kombinasi bau yang membuat perutnya mual.

Dua rumah setelah itu, pemandangan berganti menjadi gundukan barang bekas. Pemiliknya, seorang buruh shift pagi yang sering lembur, menumpuk potongan sasis motor yang berkarat, ban-ban bekas yang menampung air hujan, dan tiga buah tabung gas kosong di atas teras yang sempit. Sebuah motor matic hitam diparkir melintang secara sembarangan di depan pagar, menyisakan celah sekadarnya bagi pejalan kaki. Ana terpaksa memiringkan tubuhnya, menempelkan pinggulnya pada pagar besi tetangga yang cat hijau luarnya sudah mengelupas menjadi serpihan tajam, agar kantong sampah hitam di tangannya tidak tersangkut pada setang motor.

Setiap langkah yang diambil Ana terasa berat, bukan karena beban sampah di tangannya, melainkan karena distorsi visual di sekitarnya yang terasa menekan dadanya dari berbagai arah. Gang ini begitu padat, begitu penuh dengan ego domestik yang saling berdesakan berebut ruang gerak. Di ujung gang lain, terdengar suara lengkingan tangis anak kecil yang berebut mainan plastik murah, disusul suara bentakan seorang ibu yang kelelahan setelah seharian mengurus rumah tangga.

Lihat selengkapnya