Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #18

Telur Dadar yang Gosong Pinggirannya

Pukul 19.45 WIB. Hawa dapur belakang kembali ke setelan dasarnya: pekat, berminyak, dan pengap. Di atas kompor gas satu tungku yang permukaannya dipenuhi bercak karat hitam, wajan aluminium cekung sudah bertengger sejak sepuluh menit lalu. Minyak jelantah di dalamnya telah melewati fase panas yang wajar. Ia mulai memancarkan riak gelombang yang rapat, meletupkan uap tipis yang membawa aroma sangit sisa penggorengan kemarin.

Ana berdiri diam di depan kompor. Tangannya yang memegang pinggiran mangkuk plastik hijau tidak bergerak. Di dalam mangkuk, sebutir telur ayam negeri yang dikocok lepas bersama sejumput garam dan beberapa rajangan bawang merah telah siap. Matanya tidak berkedip, menatap permukaan minyak yang mulai berubah warna menjadi lebih gelap.

Sreeesss.

Cairan kuning itu ditumpahkan. Suara desisannya malam ini terdengar lebih nyaring dan kasar, langsung memotong kesunyian dapur. Adonan telur itu mengembang dengan cepat, memuntahkan busa-busa putih di bagian tepi yang bersentuhan langsung dengan dinding wajan yang membara.

Normalnya, dalam waktu tiga puluh detik, Ana akan menyelipkan sudit aluminiumnya ke bawah pinggiran telur, membaliknya dengan satu gerakan cekatan agar kematangannya merata. Namun, malam ini, kedua tangannya tetap tergantung kaku di sisi tubuh. Sudit besi itu dibiarkan tergeletak begitu saja di atas konter keramik yang berdebu.

Ana memilih diam. Dia memperhatikan bagaimana bagian tepi telur dadar itu mulai berubah warna. Kuning cerah berganti menjadi cokelat tua, lalu dengan cepat melepuh menjadi hitam pekat. Bau sangit yang tajam segera menguar, memenuhi ruang dapur yang berukuran dua kali dua meter, lalu merayap pelan menuju ruang tengah. Asap tipis berwarna abu-abu mulai mengepul dari bawah wajan, menusuk mata Ana hingga berair, namun perempuan itu menolak untuk bergeser satu tapak pun.

Lihat selengkapnya