Pukul 14.15 WIB. Suara klakson motor bebek terdengar dua kali di depan pagar besi yang berkarat, disusul teriakan nyaring yang membelah hawa siang kompleks Cibarusah yang lengang.
"Paket!"
Ana yang sedang mengelap lantai ruang tamu menghentikan gerakan kain pelnya. Dia menegakkan punggung, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu melangkah keluar. Seorang pria berjaket oranye dengan manifes lembaran kertas di tangannya menyodorkan sebuah bungkusan plastik hitam berukuran sekepalan tangan dewasa. Setelah Ana membubuhkan tanda tangan kaku di atas layar gawai kurir tersebut, motor itu menderu pergi, meninggalkan kepulan debu tipis yang berputar di udara.
Ana berdiri di ambang pintu, menatap bungkusan di tangannya. Di atas stiker putih yang merekat erat pada plastik hitam, tertera nama suaminya: Ernesto. Di bawahnya, pada kolom deskripsi barang yang dicetak dengan huruf-huruf kecil, tertulis: tutup oli variasi cnc anti-rembes matic. Nilai Cash on Delivery yang tertera di sana sudah lunas terbayar melalui dompet digital.
Ana membawa paket itu ke dapur. Dia duduk di kursi plastik, meletakkan bungkusan hitam itu di atas permukaan tripleks meja makan yang lengket. Tangannya meraih pisau dapur tumpul dari rak kayu. Ujung pisau diselipkan di balik selotip tebal, menyilet plastik pembungkus dengan satu tarikan lurus hingga mengeluarkan bunyi robekan yang renyah.
Di dalam plastik hitam itu terdapat sebuah kotak karton kecil tanpa merek. Ana membuka penutup kartonnya. Sebuah benda logam kecil berbentuk lingkaran berulir mencuat keluar. Benda itu terbuat dari aluminium padat yang disepuh warna merah cabai yang sangat menyala, berkilat tajam memantulkan cahaya kuning lampu dapur yang redup. Ketika Ana menyentuhnya, logam itu terasa dingin, halus, dan memiliki bobot yang solid. Ada guratan-guratan presisi di sepanjang lingkarannya, sebuah hasil kerajinan mesin yang digarap dengan ketelitian tinggi.