Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #20

Menjelang Pemadaman Listrik

Pukul 20.15 WIB. Dinding batako rumah tipe 36 di perumahan subsidi Cibarusah itu memancarkan kembali sisa panas yang diserapnya seharian. Udara di dalam ruang tengah terasa tebal, lembap, dan lengket—tipe gerah kusam yang biasa mendahului hujan deras di pinggiran kota. Tidak ada embusan angin sedikit pun dari luar. Tirai kain tipis di jendela kaca depan menggantung mati, kaku seperti terbuat dari semen.

Di atas plafon gypsum yang mulai melengkung kena rembesan air, bohlam lampu sepuluh watt mengeluarkan bunyi dengung halus yang konstan. Cahayanya samar-samar, sesekali redup lalu mendadak terang kembali dengan kedipan kaku yang menyakitkan mata. Spaneng. Tegangan listrik dari gardu utama di ujung gang sedang tidak stabil, penyakit menahun yang selalu kambuh setiap kali mendung tebal mengepung kawasan pabrik.

Ana duduk di atas karpet plastik ber motif catur yang warnanya sudah memudar. Punggungnya menyandar pada dinding cat kapur yang mengelupas. Leher dan pangkal paha Ana terasa lengket oleh peluh tipis yang menolak mengering. Kaus katun kusam yang dikenakannya menempel ketat di kulit dada, membawa aroma keringat dingin dan bau minyak goreng yang masih tertinggal dari dapur.

Di sampingnya, berjarak kurang dari satu jengkal, Ernesto duduk bersila. Bahu mereka tidak bersentuhan, tetapi Ana bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulit suaminya. Nesto baru selesai mandi, namun kaus kutang putih yang melekat di tubuhnya sudah ternoda basah di bagian punggung dan ketiak. Pria itu menyandarkan siku ke lutut, memegang gawai murah yang layarnya retak di sudut kanan atas.

Di hadapan mereka, televisi tabung empat belas inci menyala di atas rak papan pres. Layarnya memancarkan garis-garis horizontal bergelombang dengan suara desis kusam yang mendominasi ruangan. Gambar siaran berita malam itu kabur, sesekali terdistorsi menjadi semak-semak garis putih setiap kali tegangan listrik melonjak turun.

Lihat selengkapnya