Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #21

Pemadaman Listrik di Cibarusah

Pukul 21.00 WIB. Suara letupan tunggal yang nyaring—blarr—terdengar dari arah jalan utama perumahan, diikuti bunyi desis panjang dari trafo listrik yang meledak. Seketika itu juga, seluruh pendaran lampu dari deretan rumah subsidi Cibarusah padam total.

Gelap gulita yang pekat menutup kompleks dalam hitungan detik. Bersamaan dengan matinya aliran listrik, dengung kipas angin di atas sofa berhenti mendadak. Udara di dalam ruang tamu tipe 36/60 yang semula sudah tebal oleh sisa panas siang hari kini berubah menjadi oven kedap udara. Hawa membakar merayap cepat dari dinding batako, menindih dada, dan menyerap seluruh pasokan oksigen di ruangan.

Di sudut sofa yang amblas, layar gawai Ernesto padam. Baterai gawainya habis tepat sebelum listrik terputus. Nesto mendesah pendek, sebuah helaan napas berat yang terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu kusam. Dia membiarkan gawai itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke atas busa sofa dengan bunyi puk yang pelan.

"Mati total," kata Nesto.

Suaranya meluncur kaku di dalam kegelapan yang pekat. Itu adalah kata-kata pertamanya dalam tiga jam terakhir.

Ana tidak menjawab. Dia duduk berlutut di atas karpet plastik, membelakangi posisi sofa. Kegelapan di ruangan itu begitu tebal hingga Ana tidak bisa melihat ujung jemari tangannya sendiri saat diangkat ke udara. Keringat tebal mulai tumbuh di sepanjang lehernya, mengalir perlahan melewati sela-sela tulang belikat, membuat daster katun kusam yang dikenakannya menempel kaku pada kulit punggung.

Nesto bergerak dari sofa. Dalam kegelapan yang buta, langkah kakinya terdengar berat dan terseret, menggesek lantai keramik berdebu. Terdengar bunyi slot pintu depan yang ditarik kaku, diikuti engsel besi yang berderit nyaring saat pintu kayu lapis dibanting setengah terbuka.

Lihat selengkapnya