Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #22

Minyak yang Membeku di Wastafel

Pukul 05.10 WIB. Desis nyaring dari trafo utama yang kembali dialiri listrik di ujung gang memecah hening subuh, disusul pendaran kaku dari lampu neon dapur yang berkedip dua kali sebelum menyala stabil. Cahaya putih dingin itu menerangi setiap jengkal dapur sempit berukuran dua kali dua meter, menelanjangi debu yang menempel di dinding batako dan keramik wastafel yang buram oleh kerak sabun.

Ana berdiri membeku di depan bak cuci piring semen yang mengelupas. Tubuhnya masih dibungkus daster katun kusam sisa semalam, terasa dingin dan agak lembap oleh keringat yang mengering saat tidur. Dari kamar tidur, suara deru napas Ernesto yang teratur dan berat masih terdengar samar, diselingi bunyi gesekan kain sarung saat pria itu membalikkan badan di atas kasur busa yang amblas.

Di dasar wastafel, wajan aluminium hitam bekas menggoreng telur dadar semalam tergeletak kaku. Ana sengaja tidak mencucinya sebelum listrik padam semalam. Minyak jelantah sisa penggorengan yang biasanya bening kecokelatan dan encer saat dipanaskan di atas api kompor kini telah mengalami perubahan bentuk yang sempurna.

Suhu udara subuh Cikarang yang mendingin berpadu dengan kelembapan ruangan telah mengubah cairan itu menjadi gumpalan lemak kental berwarna putih keruh. Lemak itu melapisi seluruh permukaan dasar wajan, mengeras kaku, dan mengikat remahan hitam dari kerak telur yang gosong di tengahnya. Bau sangit yang mengendap semalaman menguar pelan, bercampur aroma minyak dingin yang apak dan lengket.

Ana memajukan tubuhnya beberapa senti. Pandangannya terkunci pada lapisan lemak putih keruh di dasar wajan aluminium tersebut.

Lihat selengkapnya