Telur Dadar Spesial

Best Siallagan
Chapter #23

Hari Minggu Tanpa Cuci Motor

Suara raungan mesin motor matic yang biasanya memecah hening Minggu pagi di teras semen kini tidak terdengar sama sekali. Tidak ada gemercik air keran yang dihantamkan ke ember plastik, tidak ada aroma wangi sampo kendaraan murah yang menguap bersama uap panas mesin, dan tidak ada bunyi gesekan kain kanebo basah di atas permukaan bodi plastik.

Ernesto tidak keluar rumah. Pria itu masih duduk terlentang di atas sofa kain yang busanya sudah amblas hingga membentuk cekungan dalam. Kedua matanya terbuka lebar, menatap kaku ke arah sudut plafon gypsum yang dipenuhi noda kuning bekas rembesan air hujan. Kaos singlet putih yang melekat di dadanya tampak kusam, dengan garis kotoran yang membekas di sekitar kerah.

Ana berdiri di balik tirai jendela ruang tamu yang kainnya menipis. Tangan kanannya memegang pinggiran kain tirai, sementara pandangannya terbagi antara halaman teras yang sepi dan bayangan suaminya di atas sofa.

Biasanya, Minggu pagi adalah satu-satunya momen di mana Ernesto terlihat benar-benar memiliki tenaga. Pria itu bisa menghabiskan waktu dua jam penuh untuk mengelap ruji-ruji roda motor, mengoleskan minyak pengkilap pada ban, atau memutar tutup oli merah menyala yang baru dibelinya dengan ketelitian seorang mekanik. Aktivitas mencuci motor itu adalah ritual tunggal Nesto untuk merawat sesuatu yang berharga di hidupnya.

Namun pagi ini, motor matic hitam itu dibiarkan terparkir miring di bawah kanopi asbes. Debu kering dari jalur industri Cikarang masih melekat tebal di sepanjang spatbor belakang, bersama bercak lumpur yang mengering menjadi kerak abu-abu di dekat standar dua.

Lihat selengkapnya