Seekor semut hitam sebesar biji wijen bergerak cepat menaiki tepi meja tripleks, lalu berhenti tepat di samping piring plastik Ana.
Ana tidak memukulnya. Dia membiarkan ujung telunjuknya mengambang dua senti di atas permukaan meja, memperhatikan bagaimana semut itu berhenti sejenak, menggerakkan antenanya ke udara, lalu memanggil tiga semut lain yang keluar dari celah tripleks yang terkelupas. Dalam hitungan menit, sebaris garis hitam yang rapi dan tanpa putus sudah terbentuk dari lantai semen, memanjat kaki meja yang berdebu, dan mengerumuni dua remah kuning dari sisa telur dadar semalam.
Di seberang meja, Ernesto sedang mengikat tali sepatu bot kerjanya. Suara gesekan tali kain yang ditarik kencang—sret, sret—terdengar ritmis dan kasar, menyatu dengan bunyi decitan karet sepatu di atas keramik kusam. Pria itu tidak menoleh ke arah meja. Dia mengambil helm kusamnya dari atas rak plastik, memasang tali pengikat di bawah dagunya hingga terdengar bunyi klik yang solid, lalu melangkah kaku menuju pintu depan.
Pintu ditarik terbuka, membenturkan cahaya matahari pagi Cikarang yang tebal oleh debu industri ke wajah Ana, lalu tertutup kembali dengan benturan kayu lapis yang berderak kering.
Klek. Slot pintu diputar dari luar.
Ana tetap duduk di tempatnya, menatap barisan semut yang bergerak dengan ketepatan yang mengerikan di atas meja. Serangga-serangga kecil itu bergerak tanpa keraguan. Mereka tidak pernah berhenti untuk mempertanyakan rute, tidak memprotes muatan yang berat di atas kepala mereka, dan tidak membutuhkan alasan lain selain instruksi biologis yang memaksa mereka mengulang jalur yang sama setiap hari dari sarang menuju remah makanan.
Pandangan Ana bergeser perlahan ke arah kalender dinding berlogo toko bangunan yang kertasnya sudah menguning di dekat lemari pendingin.