Uap panas membumbung tinggi dari panci aluminium yang tutupnya bergetar kaku, menumpahkan bau amis pekat yang memenehi seluruh sudut dapur.
Ana berdiri di depan kompor gas satu tungku, menggunakan sudit kayu untuk membalik potongan badan ikan mas murah yang mengapung di dalam kuah keruh bercampur irisan tomat hijau dan jahe. Ikan itu dibelinya pagi tadi dari pasar kaget di gerbang kompleks—sebuah usaha impulsif untuk memutus rasa muak terhadap aroma telur dadar dan jelantah yang menyengat lidah mereka selama berbulan-bulan. Ana ingin menghadirkan sesuatu yang beda, sebuah hidangan berkuah hangat yang mungkin bisa membawa suasana lain ke atas meja makan tripleks mereka.
Namun, bumbu dapur yang dibelinya seadanya tak mampu menaklukan amis pekat dari insang ikan mas tersebut. Suasana hati Ana yang keruh sejak semalam seolah ikut larut ke dalam air rebusan, membuat racikan kuahnya tampak pucat, serba kurang, dan mengeluarkan aroma aneh yang menusuk hidung.
Ernesto masuk ke dapur dengan kaus singlet kusamnya yang basah oleh peluh. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak tepat di dekat rak kawat, hidungnya mengembang-kempis menghirup bau amis asam yang memenuhi ruangan. Dahinya berkerut tipis—sebuah reaksi refleks yang sangat langka—sebelum dia duduk di kursi plastik meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ana mematikan kompor. Menggunakan serbet kain yang menghitam di sudutnya, dia mengangkat panci panas itu dan menyiramkan responds kuah beserta potongan ikan mas yang lembek ke dalam mangkuk keramik putih.
Mangkuk berisi sup ikan itu diletakkan tepat di tengah meja, membiarkan uap amisnya mengepul lurus ke udara.
Nesto meraih sendok aluminiumnya. Dia menatap permukaan kuah pucat yang dihiasi lapisan minyak tipis dan remahan sisik ikan yang terlepas. Dengan gerakan pelan, Nesto menyelipkan sendoknya ke dalam mangkuk, mengambil sedikit kuah keruh bersama secuil daging ikan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.