Cengkeraman kasar jemari yang kaku di atas kulit lengan atas Ana membuat perempuan itu terbangun secara refleks.
Di dalam kamar tidur berukuran dua setengah kali tiga meter yang gelap gulita, hawa pengap malam Cikarang menempel erat di kulit. Bunyi dengung kipas angin gantung di plafon terdengar ringkih, berputar lambat tanpa mampu mengusir udara hangat yang mengepung ruangan. Ana menahan napas, tidak bergerak, merasakan ibu jari Ernesto menekan lipatan daging di bawah kain dasternya—sebuah isyarat tanpa kata yang sudah dihafalnya selama lima tahun. Kode biologis yang kaku dari seorang laki-laki yang baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
Ana tidak menarik nafas panjang. Dia tidak memiringkan tubuhnya untuk menjauh, tetapi juga tidak menggeser incinya untuk mendekat.
Ernesto merayap di atas kasur busa yang amblas, menindihkan bobot tubuhnya yang berat dan dingin oleh keringat malam. Bau asap rokok murah dan oli mesin yang mengendap di pori-pori kulitnya langsung menginvasi indra penciuman Ana. Tanpa ada sebaris kalimat manis, tanpa ciuman di kening, dan tanpa tatapan mata yang saling mengunci di dalam kegelapan, segalanya berlangsung dalam ritme yang tergesa-gesa.
Ana membiarkan matanya tetap terbuka lebar, menatap lurus ke arah garis noda air di plafon gypsum yang remang.