Angin sore yang membawa bau jelaga industri membelai wajah Ana, tidak membawa kesegaran melainkan hawa hangat yang kusam.
Ana berdiri di ambang teras depan rumah subsidi nomor 12. Tangannya bertumpu pada tiang kanopi asbes yang catnya sudah mengelupas memunculkan bercak karat cokelatan. Di atas kepala, langit Cikarang terbentang luas tanpa warna biru—sebuah hamparan kanvas abu-abu pekat yang tertutup asap buangan pabrik, menahan pendaran sinar matahari sore hingga warna sekitar tampak redup seperti foto tua yang memudar.
Di seberang jalan semen yang sempit, deretan rumah tipe 36 berdiri sejajar dengan arsitektur yang seragam dan melelahkan. Dinding-dinding batako yang retak tipis, jemuran kain yang tergantung melengkung, serta sepeda anak-anak yang tergeletak di atas semen menjadi pemandangan yang sama di setiap sudut perumahan ini. Dari kejauhan, bunyi derum mesin trafo dan raungan gergaji besi dari proyek perluasan perumahan di ujung gang terdengar konstan, menjadi musik latar yang memekakkan telinga namun tak lagi dihiraukan oleh siapa pun.
Ana mengalihkan pandangannya ke pintu rumahnya yang terbuka separuh. Di dalam ruang tengah yang remang, Ernesto tampak sedang duduk di tepi sofa. Pria itu baru saja memotong kuku kakinya menggunakan gunting kuku kecil. Bunyi klik, klik yang teratur membelah keheningan di antara mereka. Nesto bergerak kaku, tanpa ekspresi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah pintu tempat Ana berdiri.
Ana menatap suaminya, lalu kembali menatap hamparan langit abu-abu di atasnya.
Sebuah emosi asing—bukan amarah, bukan amuk kekecewaan, melainkan sebuah kesadaran mutlak yang teramat dingin—tiba-tiba menghantam dadanya dengan telak. Sesuatu yang selama lima tahun ini tersimpan rapat sebagai pertanyaan samar di kepala Ana kini mekar menjadi kebenaran yang tak terbantahkan.