Bunyi letupan tipis minyak goreng yang mendidih di atas wajan aluminium hitam memenuhi sudut dapur.
Ana berdiri tegak di depan kompor gas satu tungku. Tangannya memegang sudit kayu dengan tenang, membalikkan adonan telur dadar di atas wajan tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada lagi tangan yang gemetar oleh dorongan amarah, tidak ada lagi rasa sengaja untuk menusukkan garam berlebih demi memancing reaksi, dan tidak ada lagi pembiaran hingga pinggirannya hangus melingkar.
Telur dadar di atas minyak panas itu mengembang dengan bentuk lingkaran yang simetris sempurna. Warnanya kuning keemasan yang bersih, matang merata di setiap jengkal permukaannya, memancarkan aroma gurih yang datar, presisi, dan biasa saja. Sebuah eksekusi memasak yang steril dari segala jenis emosi.
Ana mematikan api kompor, memindahkan telur dadar itu ke atas piring plastik biru, lalu membawanya ke meja makan tripleks.
Ernesto sudah duduk di kursinya. Pria itu baru saja membasuh tangan dan mukanya di keran luar, meninggalkan bulir-bulir air yang menetes dari ujung dagunya ke atas kaos singlet kusam. Di hadapannya, semangkuk nasi putih hangat sudah terhidang.
Ana duduk di seberang suaminya. Dia tidak lagi menghindari tatapan Nesto, tetapi juga tidak mencari sudut matanya. Pandangan Ana lurus, jernih, dan sepenuhnya dingin—seperti air jernih di dalam gelas kaca yang ditarik keluar dari dalam lemari es.
Nesto meraih sendok aluminiumnya. Jarinya yang kasar dan ternoda hitam oli memotong sepotong telur dadar keemasan itu, menumpuknya di atas sekepal nasi, lalu memasukkannya ke dalam mulut.