Dering nyaring dari alarm gawai murah di atas rak plastik memutus keheningan subuh dengan ritme kaku yang menyakitkan telinga.
Di luar dinding batako rumah nomor 12, raungan mesin motor matic milik para buruh pabrik yang dipanaskan bersahut-sahutan membelah gang sempit perumahan subsidi Cibarusah. Suara knalpot yang terbatuk-batuk, derak pagar besi yang digeser kaku, dan sapaan singkat antar-tetangga yang terburu-buru menjadi irama pembuka hari yang selalu sama. Hawa panas Bekasi yang lembap dan berdebu mulai merayap pelan, menembus celah-celah genteng asbes, menyerap sisa kesegaran malam hingga udara di dalam rumah kembali tebal, lengket, dan mengimpit dada.
Ernesto sudah berdiri di samping kasur busa yang amblas. Pria itu menarik kemeja seragam kerjanya yang kaku dari gantungan kawat, memasukkan lengan-lengannya yang berotot ke dalam kain poliester tebal, lalu mengancingkannya satu per satu dari bawah ke atas dengan gerakan otomatis yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Matanya masih sayu dan kemerahan karena kurang tidur, tetapi tubuhnya bergerak patuh pada jadwal shift pertama yang tak pernah peduli pada rasa lelah.
Ana tidak lagi berbaring membelakangi ruangan di atas sprei kusam. Dia sudah berdiri tegak di area dapur berukuran dua kali dua meter, membelakangi pintu kamar.
Di tangan kanannya, sebutir telur ayam negeri dingin yang baru diambilnya dari rak bawah kulkas terasa licin oleh embun air yang perlahan mencair menyentuh hangat telapak tangannya. Ana mengangkat telur itu sejajar dengan pandangan matanya. Dia menatap permukaan kulit telur berwarna cokelat muda yang mulus tanpa cacat—sebuah cangkang rapuh yang membungkus rapi cairan di dalamnya, tampak utuh dari luar meskipun tak pernah ada yang tahu apakah isinya masih segar atau sudah mulai membusuk dari dalam.
Di balik punggungnya, bunyi langkah kaki Ernesto yang mengenakan kaos kaki tebal terdengar mendekat ke arah rak helm di dekat pintu depan. Gesekan kain celana kerja pria itu beradu kaku dengan hawa dingin subuh.
"Helm di mana?" tanya Nesto singkat.
Itu adalah pertanyaan mekanis tanpa intonasi yang persis sama seperti yang diucapkannya tiga ratus hari lalu, di tempat yang sama, dan pada jam yang sama.