Ibu selalu bilang senyum itu harus sampai ke mata.
Aku tidak pernah tanya bagaimana caranya, karena sepertinya semua orang bisa melakukannya dengan mudah kecuali aku. Jadi aku belajar sendiri. Caranya, pikirkan sesuatu yang lucu tepat setengah detik sebelum kamera berbunyi. Atau kalau tidak ada yang lucu, pikirkan bahwa sesi foto ini akan segera selesai. Itu biasanya cukup untuk mengangkat sudut bibir dengan cara yang terlihat tulus.
"Ayo yang ceria dong! Ini kan momen spesial."
Ibu melambai-lambaikan tangannya dari balik kamera ponsel. Di sebelahku, Kak Reno sudah tersenyum lebih dulu — senyum yang tidak perlu dipikirkan, yang keluar begitu saja seperti bernapas. Di sebelahnya lagi, Papa berdiri tegak dengan kemeja batik yang selalu dikeluarkan untuk acara-acara keluarga, tangannya di bahu Kak Reno, wajahnya menghadap kamera dengan ekspresi yang sudah ia sempurnakan selama empat puluh sekian tahun hidup.
Aku menekan jari-jariku ke sisi paha.
Bukan keras — hanya cukup untuk memberi tekanan balik. Tekanan kecil yang bisa mengingatkan tangan bahwa ini bukan saatnya bergetar. Ini saatnya foto keluarga. Ini saatnya terlihat baik-baik saja.
Klik.
"Bagus! Satu lagi ya, yang tadi matanya kurang fokus."
Yang matanya kurang fokus adalah aku, tapi ibu tidak menyebut nama. Ia tidak pernah menyebut nama dalam koreksi kecil semacam ini — seolah kalau tidak disebutkan, tidak ada yang merasa disalahkan. Padahal semua orang tau.
Aku tau.
"Shei, agak ke kiri dikit. Kamu ketutup Kak Reno."
Aku menggeser satu langkah kecil ke kiri. Di sudut ini wajahku lebih terekspos ke cahaya, dan itu berarti kantung mata yang sudah berminggu-minggu tidak bisa dihilangkan akan lebih terlihat. Tapi tidak ada pilihan lain. Aku menggeser, aku menyesuaikan sudut kepala dua senti ke kanan — formula yang sudah kuhafalkan — dan aku senyum.
Klik.
"Nah itu dia! Cantik semua."
Kak Reno langsung bubar menuju dapur, hidungnya mengikuti aroma rendang yang sudah masak sejak pagi. Papa mengikuti sambil mengecek ponselnya. Ibu masih sibuk memilah foto-foto di galeri, bibirnya sedikit mengerucut seperti biasa ketika ada sesuatu yang tidak sepenuhnya memuaskan.
Aku berdiri di tempat yang sama selama beberapa detik.
Di luar jendela ruang tamu, pohon mangga di halaman sedang tidak berbuah. Langit Malang sore itu putih pucat, bukan biru, bukan abu-abu — putih yang tidak bisa diputuskan mau jadi apa. Angin masuk dari celah jendela yang tidak tertutup sempurna dan menyentuh lenganku dengan dingin yang terasa seperti peringatan. Aku menghitung dalam hati, tujuh hari lagi aku kembali ke asrama. Tujuh hari adalah angka yang bisa diinventarisasi, dipecah menjadi makan pagi, makan siang, makan malam, tidur, bangun, ulangi. Dengan cara itu liburan terasa lebih bisa dikelola.
"Shei, bantu aku angkat piring ke meja makan."
Aku bergerak sebelum selesai berpikir.
Makan malam keluarga Pradana selalu berlangsung dengan efisien.
Ibu memasak dengan baik — itu tidak pernah dipertanyakan. Rendang, sayur lodeh, tempe orek, dan nasi putih yang selalu cukup untuk dua kali tambah. Papa makan dengan khidmat, sesekali mengomentari berita yang ia baca siang tadi. Kak Reno cerita tentang proyek akhir semesternya di kampus dengan semangat yang tidak pernah ia simpan untuk nanti.
Aku mendengarkan. Aku mengunyah. Aku mengangguk pada waktu yang tepat.