Bau asrama selalu sama.
Deterjen murah, kayu lantai yang sudah terlalu sering dipel, dan sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi tapi selalu ada — semacam bau kolektif dari terlalu banyak orang yang tinggal terlalu dekat terlalu lama. Waktu pertama kali menciumnya dua tahun lalu aku sempat berpikir bahwa tidak akan pernah terbiasa. Sekarang hidungku bahkan tidak mendaftarnya. Bau itu sudah jadi bagian dari ritme, seperti bunyi alarm dan suara pintu kamar mandi yang selalu agak berdecit di pagi hari.
Aku menarik koper ke kamar 214 di lantai dua, melewati lorong yang sudah ramai dengan anak-anak yang baru kembali dari liburan. Ada yang berteriak memanggil nama teman dari ujung lorong, ada yang berdiri di depan kamar sambil bertukar cerita dengan gestur berlebihan, ada yang duduk di lantai di depan pintu dengan ekspresi seseorang yang belum sepenuhnya siap kembali. Keramaian jenis ini selalu punya dua lapis — lapis yang terlihat, penuh tawa dan pelukan dan pertanyaan gimana liburannya, dan lapis di bawahnya yang tidak pernah dibicarakan: rasa lega karena akhirnya kembali ke tempat di mana tidak ada yang tahu versi kamu di rumah.
Kamar 214 sudah terbuka ketika aku sampai. Nisa — teman sekamarku sejak semester satu — sudah di dalam, tasnya terbuka di kasur dan isinya berhamburan dengan cara yang selalu membuatku berpikir bahwa ia packing dengan prinsip memasukkan semua yang terlihat dan memilah di tempat tujuan.
"Shei!" Ia langsung berdiri dan memelukku dengan antusias yang tidak pernah berkurang meski kami sudah dua tahun sekamar. "Kapan sampai? Tadi aku kirim pesan."
"Satu jam lalu. HP-ku mati di jalan."
"Ah, biasalah." Ia melepaskan pelukan dan langsung kembali ke kasurnya, melanjutkan misi menyortir barang. "Liburanmu gimana? Enak? Banyak makan?"
"Lumayan."
"Lumayan enak atau lumayan biasa?"
Aku meletakkan koper di sudut dan mulai membukanya. "Lumayan biasa."
Nisa mengangguk-angguk seolah itu jawaban yang cukup, dan mungkin memang cukup — ia tidak pernah menekan lebih jauh untuk hal-hal yang kujawab dengan lumayan. Bukan karena tidak peduli, tapi karena kami sudah cukup lama berbagi kamar untuk sama-sama mengerti kapan seseorang sedang tidak ingin digali lebih dalam. Ada bahasa diam yang terbentuk sendiri antara dua orang yang cukup lama hidup berdampingan.
"Kak Dira tadi nyariin kamu," kata Nisa sambil melempar kaos ke tumpukan yang sudah cukup tinggi.
Aku menghentikan tangan sebentar. "Nyariin kenapa?"
"Katanya ada program baru yang mau dia jalankan semester ini. Butuh orang-orang yang bisa diandalkan." Nisa menoleh ke arahku dengan ekspresi yang tidak bisa kutentukan posisinya — antara kagum dan sedikit waspada. "Kamu kan langganan diandalkan."