Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #3

3. Keluarga Cemara

Ada foto di dompetku yang sudah lipat-lipatannya memudar.

Foto keluarga dari tiga tahun lalu — aku masih SMP, Kak Reno masih belum potong rambut, Papa masih belum pakai kacamata, ibu masih pakai jilbab warna biru yang kemudian ia ganti dengan cokelat karena katanya lebih mudah dipadukan. Kami semua tersenyum di foto itu, berdiri di depan rumah Nenek di Jogja, dan sekilas pandang tidak ada yang salah.

Sekilas pandang.

Aku tidak ingat bagaimana rasanya hari itu. Yang kuingat hanyalah foto itu sendiri — buktinya, bukan perasaannya. Ada sesuatu yang terbalik dalam cara ingatan bekerja, kadang yang tersimpan bukan momennya sendiri, tapi bukti bahwa momen itu pernah ada. Seolah otak memilih mana yang layak dipertahankan dan mana yang lebih aman untuk dilepaskan.

Kenangan pertama yang selalu muncul kalau aku mencoba mengingat keluargaku bukan kejadian besar.

Bukan ulang tahun, bukan liburan, bukan momen yang seharusnya menjadi kenangan.

Yang muncul adalah malam ketika aku kelas empat SD, baru pulang dari lomba cerdas cermat tingkat kecamatan. Aku menang — piala kecil berbentuk orang mengangkat tangan, warnanya sudah pudar tapi waktu itu terlihat seperti emas murni di tanganku. Aku berlari masuk rumah dengan piala itu di depan dada seperti orang membawa obor olimpiade.

Papa sedang menelepon di ruang kerja.

Ibu sedang menidurkan Kak Reno yang waktu itu masih sering susah tidur.

Aku duduk di ruang tamu, meletakkan piala di atas meja kaca, dan menunggu. Aku membayangkan berbagai versi reaksi mereka. Papa yang langsung menelepon dari ruang kerja setelah melihat piala di meja, atau ibu yang keluar dan langsung memeluk, atau setidaknya seseorang yang berkata bahwa ini bagus dengan cara yang berarti lebih dari sekadar konfirmasi fakta.

Setengah jam kemudian Papa keluar dari ruang kerja, melihat piala di meja, mengangguk, dan berkata: "Bagus. Taruh di rak buku ya, jangan di meja kaca nanti geser sendiri."

Itu saja.

Aku membawa piala ke rak buku dan meletakkannya di antara ensiklopedia dan kamus bahasa Inggris. Malam itu aku tidur dengan perasaan yang tidak bisa kunamai — bukan kecewa, karena aku tidak merasa berhak kecewa. Papa tidak salah. Rak buku adalah tempat yang tepat untuk piala. Semua yang ia katakan adalah kalimat yang benar.

Tapi ada sesuatu yang kecil sekali, sekecil jarum, yang menancap di suatu tempat di dadaku dan tidak pernah benar-benar dicabut.

Kenangan kedua adalah waktu kelas delapan.

Lihat selengkapnya