Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #4

4. Partner Lomba

Pengumuman itu ditempel di papan informasi depan ruang guru pada hari Senin.

Aku membacanya tiga kali karena yakin ada yang salah — bukan karena tidak percaya dengan namaku sendiri, tapi karena nama yang ada di sebelahnya tidak pernah ada dalam perhitungan apapun yang pernah aku buat tentang semester ini.

LOMBA ESAI TINGKAT PROVINSI — KATEGORI SAINS DAN HUMANIORA

Tim A: Sheira Pradana & Rayan Aditya

Rayan Aditya.

Aku tahu siapa Rayan — siapa yang tidak tahu, di sekolah yang cukup besar tapi tidak terlalu besar untuk bisa pura-pura tidak mengenal seseorang yang namanya sering muncul di papan pengumuman. Rayan dua kali juara olimpiade biologi tingkat provinsi. Rayan ketua kelompok riset junior yang presentasinya tahun lalu katanya membuat tamu dari universitas bertanya apakah ia sudah punya rencana untuk langsung S2. Namanya selalu ada di deretan atas, selalu disebut dalam konteks yang membuat orang mengangguk dengan hormat.

Dan sekarang Rayan adalah partner lombaku.

Aku melipat kertas kecil catatan jadwal pertemuan pertama yang disertakan di pengumuman dan memasukkannya ke saku seragam. Jari-jariku sedikit dingin waktu melakukannya — sensasi familiar yang biasanya muncul sebelum sesuatu yang baru dimulai, sesuatu yang punya kemungkinan untuk menjadi banyak hal sekaligus.

Pertemuan pertama dijadwalkan Rabu sore di perpustakaan.

Aku datang lima menit lebih awal — kebiasaan yang sudah terbentuk sejak SD, karena terlambat selalu terasa seperti membuktikan sesuatu yang tidak ingin dibuktikan. Aku memilih meja di sudut, dekat rak referensi, dan mengeluarkan buku catatan yang sudah kusiapkan: halaman pertama kosong dengan judul LOMBA ESAI — CATATAN AWAL yang ditulis terlalu rapi untuk dokumen yang masih belum berisi apa-apa.

Perpustakaan Rabu sore selalu lebih sepi dari hari-hari lain. Ada beberapa anak di meja tengah mengerjakan tugas kelompok dengan suara yang berusaha pelan tapi tidak selalu berhasil. Seorang guru pustaka menyortir buku di rak paling pojok. Cahaya matahari sore masuk miring dari jendela atas, memotong udara dengan garis-garis yang penuh debu kecil yang berputar perlahan.

Rayan datang tepat waktu.

Bukan lebih awal, bukan terlambat — tepat waktu dengan cara yang terasa seperti pernyataan: aku menghargai jadwal, tapi aku tidak perlu membuktikannya dengan datang lebih awal. Ia meletakkan tas di kursi seberangku, mengeluarkan laptop dan satu buku tipis yang sudut-sudutnya sudah agak lusuh, dan duduk. Rambutnya sedikit berantakan dengan cara yang mungkin memang begitu adanya dan bukan disengaja. Ia menoleh ke arahku dan berkata, langsung tanpa basa-basi:

Lihat selengkapnya