Kak Dira menemukan aku di kantin dua hari setelah sekolah dimulai.
"Shei! Dari kemarin nyariin kamu." Ia duduk di seberangku tanpa menunggu dipersilakan — cara duduk orang yang sudah terbiasa tidak perlu meminta izin. "Gimana liburannya? Istirahat yang cukup?"
Kak Dira adalah pengurus asrama yang namanya selalu ada di setiap program, setiap kepanitiaan, setiap hal yang perlu orang-orang yang bisa diandalkan. Wajahnya selalu terlihat tiga tahun lebih tua dari usianya — bukan karena kelelahan, tapi karena ada sesuatu di cara ia berbicara yang membuat lawan bicaranya merasa sedang dipimpin tanpa sadar sedang dipimpin. Cara ia meletakkan nampan dan langsung makan adalah cara orang yang tidak pernah punya waktu untuk tidak efisien.
"Lumayan, Kak."
"Bagus." Ia meletakkan nampannya dan mulai makan dengan tenang. "Aku mau ngomong sesuatu. Ada program besar semester ini — program pengembangan karakter untuk adik-adik kelas sepuluh yang baru masuk asrama. Konsepnya sudah aku susun, tapi butuh tangan-tangan yang bisa dipercaya buat eksekusinya." Ia menatapku. "Aku kepikiran kamu dari pertama."
Aku menghentikan sendok sebentar.
"Program seperti apa, Kak?"
"Seri workshop. Ada yang soal manajemen waktu, soal kesehatan mental, soal kepemimpinan. Kamu yang handle desain konten dan koordinasi rundown. Aku yang urus perizinan dan komunikasi dengan pihak sekolah." Ia melanjutkan makannya. "Nanti namamu tercantum sebagai koordinator pelaksana. Bagus untuk portofolio, terutama kalau kamu mau ikut seleksi program kepemimpinan nasional tahun depan."
Namamu tercantum sebagai koordinator pelaksana.
Kalimat itu masuk ke suatu tempat di dadaku yang sudah terlalu lama kosong. Ada sesuatu yang berbeda antara diandalkan dalam arti dimanfaatkan dengan diandalkan dalam arti dipercaya — dan kalimat itu terdengar seperti yang kedua. Setidaknya begitu rasanya di kantin itu, di tengah suara sendok dan percakapan orang-orang di sekitar.
Aku tau aku seharusnya lebih berhati-hati. Ada sesuatu di cara Kak Dira berbicara yang selalu membuat hal-hal terdengar lebih besar dan lebih mengkilap dari aslinya. Tapi aku juga tau bahwa program seperti ini memang ada, memang dibutuhkan, dan ada bagian dariku yang ingin sekali — butuh sekali — merasakan bahwa kerjaku menghasilkan sesuatu yang terlihat.
"Aku bisa bantu, Kak."
"Aku tau bisa andalkan kamu."
***
Tiga minggu pertama adalah minggu-minggu yang membuatku merasa berarti.
Aku menyusun konsep workshop dari nol — riset format, menulis draf materi, menghubungi beberapa kakak tingkat untuk jadi narasumber, membuat template rundown yang bisa digunakan untuk semua sesi. Aku mengerjakannya di sela-sela tugas sekolah dan latihan lomba esai, di jam-jam setelah makan malam ketika Nisa sudah mulai mengantuk dan kamar menjadi milikku sendiri.
Ada ritme dalam cara aku bekerja di jam-jam itu yang tidak pernah bisa kujelaskan kepada orang lain: bagaimana dunia mengecil menjadi satu layar laptop dan satu kolam cahaya dari lampu meja, bagaimana pikiran yang biasanya tidak bisa diam menjadi terfokus ketika ada sesuatu konkret yang harus diselesaikan. Di jam-jam itu aku tidak harus memilih senyum, tidak harus menghitung jeda, tidak harus menjadi ukuran yang tepat untuk apapun. Aku hanya mengerjakan.
Nisa kadang terbangun dan menemukan aku masih di meja belajar.
"Kamu nggak tidur?"
"Sebentar lagi."
"Shei, itu sudah jam sebelas lebih."
"Iya, sebentar lagi."
Nisa menghela napas dengan cara seseorang yang sudah menyerah bernegosiasi, membalik tubuh ke sisi lain, dan tertidur lagi. Aku kembali ke layar laptop.
Di kasur yang seharusnya kosong — yang memang kosong, yang tidak pernah ada orang lain kecuali dalam sudut pandangku sendiri — Hyeon Jae duduk dengan satu kaki ditekuk, siku di lutut, dagu di tangan. Ia menatap layar laptopku dengan ekspresi seseorang yang sedang membaca sesuatu dari jauh. Kehadirannya berbeda dari Auristella — lebih tenang, lebih stabil, seperti dinding yang tidak bergerak meski angin datang dari manapun.