Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #5

5. Proyek Kak Dira

Kak Dira menemukan aku di kantin dua hari setelah sekolah dimulai.

"Shei! Dari kemarin nyariin kamu." Ia duduk di seberangku tanpa menunggu dipersilakan — cara duduk orang yang sudah terbiasa tidak perlu meminta izin. Nampannya menyentuh meja dengan bunyi yang tepat, tidak terburu-buru, tidak hati-hati, dengan cara yang sama seperti semua gerakannya: efisien dan sadar. "Gimana liburannya? Istirahat yang cukup?"

Kak Dira adalah pengurus asrama yang namanya selalu ada di setiap program, setiap kepanitiaan, setiap hal yang perlu orang-orang yang bisa diandalkan. Wajahnya selalu terlihat tiga tahun lebih tua dari usianya — bukan karena kelelahan, tapi karena ada sesuatu di cara ia berbicara yang membuat lawan bicaranya merasa sedang dipimpin tanpa sadar sedang dipimpin. Aku sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu itu, dan cukup lama untuk tetap merespons dengan cara yang sama setiap kali.

"Lumayan, Kak."

"Bagus." Ia mulai makan dengan tenang. "Aku mau ngomong sesuatu. Ada program besar semester ini — program pengembangan karakter untuk adik-adik kelas sepuluh yang baru masuk asrama. Konsepnya sudah aku susun, tapi butuh tangan-tangan yang bisa dipercaya buat eksekusinya." Ia menatapku. "Aku kepikiran kamu dari pertama."

Aku menghentikan sendok sebentar.

"Program seperti apa, Kak?"

"Seri workshop. Ada yang soal manajemen waktu, soal kesehatan mental, soal kepemimpinan. Kamu yang handle desain konten dan koordinasi rundown. Aku yang urus perizinan dan komunikasi dengan pihak sekolah." Ia melanjutkan makannya, nada suaranya tidak berubah dari nada orang yang sedang mendiktekan sesuatu yang sudah selesai dipikirkan. "Nanti namamu tercantum sebagai koordinator pelaksana. Bagus untuk portofolio, terutama kalau kamu mau ikut seleksi program kepemimpinan nasional tahun depan."

Namamu tercantum sebagai koordinator pelaksana.

Kalimat itu masuk ke suatu tempat di dadaku yang sudah terlalu lama kosong — tempat yang terlalu akrab dengan kata-kata yang kedengarannya seperti pengakuan tapi tidak pernah cukup terasa seperti itu. Aku tahu aku seharusnya lebih berhati-hati. Ada sesuatu di cara Kak Dira berbicara yang selalu membuat hal-hal terdengar lebih besar dan lebih mengkilap dari aslinya, yang membuat setiap detail terdengar seperti keuntungan untukmu bahkan ketika ia sedang memintamu melakukan pekerjaan. Bagian itu kutahu. Sudah lama kutahu.

Tapi ada bagian lain yang lebih keras suaranya: aku ingin sekali — butuh sekali — merasakan bahwa kerjaku menghasilkan sesuatu yang terlihat.

"Aku bisa bantu, Kak."

"Aku tau bisa andalkan kamu."

Ia sudah kembali ke nampannya sebelum kalimat itu selesai diucapkan, dengan cara orang yang menyebut sesuatu bukan untuk direspons tapi untuk diterima. Dan aku menerimanya — menyimpannya di tempat yang sama dengan kata-kata lain yang pernah masuk ke sana, menyusunnya dengan rapi, memastikan ia tidak terlalu cepat ditinjau kembali.

Tiga minggu pertama adalah minggu-minggu yang membuatku merasa berarti.

Aku menyusun konsep workshop dari nol — riset format, menulis draf materi, menghubungi kakak tingkat untuk jadi narasumber, membuat template rundown yang bisa digunakan untuk semua sesi. Aku mengerjakannya di sela-sela tugas sekolah dan latihan esai dengan Rayan, di jam-jam setelah makan malam ketika Nisa sudah mulai mengantuk dan kamar menjadi milikku sendiri. Ada ritme dalam cara aku bekerja di jam-jam itu yang tidak pernah bisa kujelaskan kepada orang lain: bagaimana dunia mengecil menjadi satu layar laptop dan satu kolam cahaya dari lampu meja, bagaimana pikiran yang biasanya tidak bisa diam menjadi terfokus ketika ada sesuatu konkret yang harus diselesaikan. Di jam-jam itu aku tidak harus memilih senyum, tidak harus menghitung jeda, tidak harus menjadi ukuran yang tepat untuk apapun.

Aku hanya mengerjakan. Dan itu terasa seperti bernapas.

Nisa kadang terbangun dan menemukan aku masih di meja belajar.

"Kamu nggak tidur?"

"Sebentar lagi."

"Shei, itu sudah jam sebelas lebih."

"Iya, sebentar lagi."

Lihat selengkapnya