Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #6

6. Pengumuman yang Salah

Aku datang ke aula satu jam lebih awal.

Bukan karena diminta. Bukan karena jadwal mengharuskan. Tapi karena ada bagian dariku yang membutuhkan satu jam itu — membutuhkan momen di mana aula masih kosong dan semua yang sudah kusiapkan masih utuh, belum disentuh siapapun, masih milikku sepenuhnya sebelum hari itu dimulai dan semuanya bergerak di luar kendali.

Aku mengecek proyektor. Mengecek susunan kursi. Mengecek name tag narasumber, air mineral, checklist yang sudah kutulis tiga kali di tiga lembar kertas berbeda karena satu saja terasa tidak cukup aman. Ada kepuasan kecil di setiap centang — jenis kepuasan yang sudah lama tidak kurasakan dari hal-hal di luar angka dan lomba. Di sini sesuatu bisa diverifikasi: ini sudah selesai, ini sudah benar, ini sudah di tempatnya. Tidak ada yang bisa mendebat centang yang sudah ada.

Kak Dira datang tiga puluh menit kemudian dengan wajah tenang dan kemeja rapi.

"Semua sudah siap?"

"Sudah, Kak."

Ia mengedarkan pandangan ke aula, mengangguk-angguk pelan dengan ekspresi orang yang sedang menilai sesuatu dan menemukan hasilnya sesuai ekspektasi. "Kamu memang bisa diandalkan."

Aku tersenyum dan kembali ke checklist.

Workshop pertama berlangsung pukul delapan — materi manajemen waktu, narasumber dari kakak tingkat yang sudah kuhubungi tiga minggu lalu, konten yang aku susun dan ia sampaikan dengan cara yang sedikit berbeda tapi intinya sama. Aku duduk di barisan paling belakang, mencatat hal-hal yang perlu diperbaiki untuk sesi berikutnya, memantau reaksi peserta, memastikan ritme sesi tidak kehilangan momentum. Pekerjaan yang tidak terlihat dari depan — pekerjaan yang ada di sela-sela, di belakang layar, di tempat yang hanya terasa kalau tidak ada yang melakukannya.

Di tengah workshop kedua, ponselku bergetar. Pesan dari Nisa: program bagus banget shei, tadi aku liat dari pintu. siapa yang bikin konsepnya?

Aku mengetik balas: tim kok, banyak yang bantu.

Ponselku bergetar lagi: tapi kamu kan yang paling banyak kerja. keliatan.

Aku mengunci ponsel dan memasukkannya ke saku. Kalimat Nisa berputar sebentar di kepala — senang ada yang melihat, senang ada yang tahu — sebelum aku sadar bahwa rasa senang itu terasa seperti cara aku mempersiapkan diri untuk kecewa. Seperti tubuh yang sudah hafal pola: ada yang melihat, tapi nanti kamu akan tahu apakah melihat cukup.

Penutupan dijadwalkan setelah makan siang.

Aku duduk di baris ketiga. Kak Dira berdiri di depan mikrofon dengan gaya bicara yang sudah kukenal — terstruktur, percaya diri, tidak terlalu panjang tapi cukup untuk terasa berbobot. Ia berterima kasih kepada semua pihak, menyebut nama-nama narasumber satu per satu. Aku mendengarkan. Tanganku di atas lutut, jari-jari diam.

"Dan tentu saja program ini tidak akan berjalan tanpa kerja keras tim inti yang sudah menyiapkan semuanya dari nol."

Aku sedikit menegakkan punggung.

Jantungku bergerak satu kali dengan cara yang berbeda.

Lihat selengkapnya