Tiga hari setelah program, aku akhirnya bercerita kepada Nisa.
Bukan karena sudah siap. Lebih karena tekanannya sudah terlalu lama ditahan dan ada titik di mana tubuh memutuskan sendiri bahwa ia tidak bisa menyimpan lebih banyak lagi — seperti gelas yang dituang terus tanpa ada yang memperhatikan bahwa permukaannya sudah terlalu tinggi, sampai satu tetes terakhir yang tidak istimewa membuat semuanya tumpah.
Malam itu Nisa sedang melukis kuku — ritual Selasa malam dengan konsentrasi yang biasanya ia berikan untuk ujian, botol-botol kecil berbaris di tepi kasurnya, harum aseton tipis di udara kamar. Ada sesuatu tentang suasana itu yang membuatku lengah: kamar yang tenang, lampu yang hangat, Nisa yang sedang melakukan sesuatu yang tidak membutuhkan perhatian penuh dariku. Kata-kata keluar sebelum sempat kusaring.
"Nisa."
"Hm."
"Namaku nggak disebut waktu penutupan program kemarin."
Nisa berhenti sebentar, meniup ujung jarinya, lalu melanjutkan melukis kuku jari keempat.
"Hah? Serius?"
"Iya."
"Padahal kamu yang bikin konsepnya."
"Iya."
"Itu nggak bener, Shei." Nisa mengernyit ke arah kuku jarinya, bukan ke arahku. "Kamu harusnya ngomong ke Kak Dira."
"Dia bilang namaku akan disebut sebagai koordinator."
"Tapi nggak disebut?"
"Nggak."
Nisa diam sebentar. Di luar jendela angin bergerak pelan, menggerakkan gorden tipis kami dengan gerakan yang hampir tidak terlihat. Aku menunggu — tidak tahu persis apa yang kutunggu, tapi ada sesuatu yang dibutuhkan dari percakapan ini, sesuatu yang lebih dari sekadar konfirmasi bahwa aku tidak salah menghitung.
"Mungkin dia lupa," kata Nisa akhirnya.
Aku tidak menjawab.
"Atau mungkin dia pikir sudah cukup dengan bilang 'tim inti'. Kan kamu bagian dari tim?"