Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #7

7. "Kamu Terlalu Sensitif"

Tiga hari setelah program, aku akhirnya bercerita kepada Nisa.

Bukan karena sudah siap. Lebih karena tekanannya sudah terlalu lama ditahan dan ada titik di mana tubuh memutuskan sendiri bahwa ia tidak bisa menyimpan lebih banyak lagi. Malam itu Nisa sedang melukis kuku — ritual yang ia lakukan setiap Selasa malam dengan konsentrasi yang biasanya ia berikan untuk ujian — dan ada sesuatu tentang suasana kamar yang tenang dan harum cat kuku itu yang membuat kata-kata keluar sebelum sempat kusaring.

Seperti menuangkan sesuatu yang sudah terlalu penuh.

"Nisa."

"Hm."

"Namaku nggak disebut waktu penutupan program kemarin."

Nisa berhenti sebentar, meniup ujung jarinya, lalu melanjutkan melukis kuku.

"Hah? Serius?"

"Iya."

"Padahal kamu yang bikin konsepnya."

"Iya."

"Itu nggak bener, Shei." Nisa mengernyit. "Kamu harusnya ngomong ke Kak Dira."

"Dia bilang namaku akan disebut sebagai koordinator."

"Tapi nggak disebut?"

"Nggak."

Nisa diam sebentar, mengalihkan perhatian ke jarinya yang kelima. Di luar jendela angin bergerak pelan, menggerakkan gorden tipis kamar kami dengan gerakan yang hampir tidak terlihat.

"Mungkin dia lupa," kata Nisa akhirnya.

Aku tidak menjawab.

"Atau mungkin dia pikir sudah cukup dengan bilang 'tim inti'. Kan kamu bagian dari tim?"

"Tapi bukan namaku yang disebut."

"Iya tapi..." Nisa meletakkan kuasnya sebentar dan menatapku dengan ekspresi yang ingin bersimpati tapi juga terlihat sedikit lelah. "Kamu sudah konfirmasi langsung ke dia belum? Minta klarifikasi?"

Lihat selengkapnya