Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #8

8. Pertemuan Terakhir dengan Rayan

Amplop pemenang dibuka di depan seluruh peserta pada hari Jumat siang di aula sekolah penyelenggara.

Kami menang.

Bukan juara satu — juara dua, tapi hadiah dan sertifikat dan nama yang akan tercantum di database lomba tingkat provinsi. Cukup untuk dua bulan kerja yang tidak pernah terasa seperti hanya dua bulan. Aku membaca nama tim kami di pengumuman tiga kali sebelum bisa menerimanya bukan sebagai kemungkinan tapi sebagai fakta.

Rayan duduk di sebelahku ketika nama kami dipanggil. Ia berdiri lebih dulu dan aku mengikuti. Kami berjalan ke depan bersama, menerima sertifikat dari tangan juri, berfoto untuk dokumentasi. Tangan juri yang berjabat dengan kami adalah tangan yang sama. Sertifikat kami berukuran sama. Kami berdiri di posisi yang setara di depan kamera.

Tapi ketika panitia memanggil perwakilan untuk berbicara dua kalimat di mikrofon, mereka memanggil nama yang tertera sebagai ketua tim.

Rayan Aditya.

Aku kembali ke kursi dan duduk. Punggung tegak. Wajah netral.

Rayan berbicara dua kalimat dengan tenang — berterima kasih kepada juri, berterima kasih kepada sekolah. Tidak menyebut namaku. Bukan karena tidak mau, tapi karena dua kalimat memang tidak cukup untuk semua nama, dan ia tidak tahu bahwa dua kalimat adalah satu-satunya kesempatan yang ada.

Ia tidak tahu.

Dan itu yang membuat semuanya lebih rumit. Kalau ia tahu dan tetap tidak menyebut, ada tempat yang jelas untuk kecewanya pergi. Kalau tidak ada yang tahu, kecewa itu tidak punya alamat — hanya berputar di dalam sampai kehabisan bensin atau menemukan sudut lain untuk ditabrak.

Makan siang diusulkan oleh salah satu anggota tim. Ada enam orang total, tapi yang paling banyak mengerjakan hanya kami berdua. Kami duduk di restoran sederhana dekat gedung lomba — memesan dengan ramai, bicara tentang soal-soal yang keluar, tentang peserta dari sekolah lain, tentang hal-hal ringan yang tidak perlu dipikirkan lebih dari lima menit.

Rayan duduk dua kursi dari tempatku.

Di tengah percakapan yang berputar di permukaan, ada momen ketika aku meraih air minum dan teko itu ada di dekat Rayan. Ia menggesernya ke tengah meja — bukan kepadaku secara khusus, hanya ke arah tengah karena memang teko ada di dekatnya dan ini hanya logistik. Tangannya tidak menyentuh tanganku. Matanya tidak menatapku.

Lihat selengkapnya