Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #8

8. Pertemuan Terakhir dengan Rayan

Amplop pemenang dibuka di depan seluruh peserta lomba esai tingkat provinsi pada hari Jumat siang di aula sekolah penyelenggara.

Kami menang.

Bukan juara satu — juara dua, tapi hadiah dan sertifikat dan nama yang akan tercantum di database lomba tingkat provinsi. Cukup untuk dua bulan kerja yang tidak pernah terasa seperti hanya dua bulan. Aku membaca nama tim kami di pengumuman tiga kali sebelum bisa benar-benar menerimanya bukan sebagai kemungkinan tapi sebagai fakta.

Rayan duduk di sebelahku ketika nama tim kami dipanggil. Ia berdiri lebih dulu, dan aku mengikuti. Kami berjalan ke depan bersama, menerima sertifikat dari tangan juri, berfoto untuk dokumentasi. Tangan juri yang berjabat dengan kami adalah tangan yang sama, sertifikat yang kami terima berukuran sama, foto yang kami ambil berdiri di posisi yang setara.

Tapi ketika panitia memanggil perwakilan untuk berbicara dua kalimat di mikrofon — karena memang hanya butuh dua kalimat, bukan pidato panjang — mereka memanggil nama yang tertera sebagai ketua tim.

Rayan Aditya.

Aku kembali ke kursi dan duduk. Punggung tegak. Wajah netral.

Rayan berbicara dua kalimat dengan tenang. Berterima kasih kepada juri, berterima kasih kepada sekolah. Tidak menyebut namaku — bukan karena ia tidak mau, tapi karena memang tidak ada waktu, dua kalimat tidak cukup untuk menyebut semua nama, dan ia tidak tau bahwa dua kalimat adalah satu-satunya kesempatan yang ada.

Ia tidak tau.

Itu yang membuat semuanya lebih rumit. Kalau ia tahu dan tetap tidak menyebut, ada tempat untuk kecewa. Kalau tidak ada yang tahu, kecewa itu tidak punya alamat.

Lihat selengkapnya