Tremor itu bukan hal baru.
Yang baru adalah frekuensinya.
Sebelumnya ia datang di momen-momen tertentu — sebelum lomba, sebelum presentasi, sebelum hal-hal yang punya nama dan alasan yang jelas. Sekarang ia datang kapan saja. Di tengah pelajaran ketika guru sedang menjelaskan dan semua yang perlu kulakukan adalah duduk dan mendengarkan. Di antrean kantin ketika tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali memilih lauk. Di lorong asrama dalam perjalanan yang sudah ribuan kali kutempuh.
Tanganku bergetar dan aku tidak selalu tahu kenapa.
Cara menyembunyikannya sudah semakin terlatih: tangan di saku, tangan di bawah meja, tangan menggenggam sesuatu — pulpen, pinggiran buku, tepian kursi — dengan tekanan yang cukup untuk memberi ilusi stabilitas. Tapi ada lelah tersendiri dalam menyembunyikan sesuatu yang terus datang. Seperti menutup pintu yang tidak punya kunci dan angin terus mendorongnya dari luar — setiap kali berhasil ditutup, ada energi yang terpakai. Dan energi itu tidak selalu ada.
Satu Selasa pagi, di tengah pelajaran Bahasa Indonesia, guru meminta kami menulis satu paragraf spontan tentang tema yang ia berikan. Hal yang sudah ratusan kali kulakukan, hal yang tidak seharusnya memerlukan lebih dari dua menit. Aku memegang pulpen di atas kertas dan menunggu tangan mulai bergerak.
Tangan tidak bergerak.
Bukan karena tidak tahu mau menulis apa. Ada kalimat di kepala, sudah terbentuk, sudah siap. Tapi antara kepala dan tangan ada jarak yang tiba-tiba tidak bisa dijembatani — seperti sinyal yang dikirim tapi tidak sampai, seperti perintah yang hilang di tengah jalan. Aku duduk dengan pulpen di atas kertas kosong selama waktu yang terasa terlalu lama, sementara di sekitarku suara pena bergerak mulai terdengar satu per satu.
Di sebelahku, teman sebangku melirik sebentar.
"Shei, kamu nulis apa?"
"Sebentar." Aku tersenyum. "Lagi mikir."
Ia mengangguk dan kembali ke kertasnya. Aku menekan ujung pulpen ke kertas — sedikit lebih keras dari yang diperlukan, sampai ujungnya meninggalkan titik tinta kecil yang tidak akan jadi apa-apa — dan memaksa tangan bergerak. Kalimat pertama keluar dengan tersendat. Kalimat kedua lebih lancar. Pada kalimat ketiga semuanya sudah berjalan seperti biasa dan tidak ada yang melihat jeda yang terjadi sebelumnya.
Tidak ada yang melihat.
Itu yang paling melelahkan — bukan kejadiannya, tapi fakta bahwa setelah kejadian itu selesai tidak ada bekasnya yang terlihat dari luar. Seolah tidak terjadi. Seolah aku selalu baik-baik saja dari awal.
Insomnia datang lebih awal dari biasanya di minggu-minggu itu.
Bukan setelah tengah malam lagi — sekarang sudah jam sepuluh, jam sebelas, tepat ketika seharusnya tubuh mulai melunak. Alih-alih melunak, pikiranku justru paling ribut di jam-jam itu. Bukan pikiran tentang sesuatu yang besar — justru hal-hal kecil yang tidak seharusnya penting. Kalimat yang kuucapkan tiga hari lalu dan mungkin terdengar salah. Ekspresi seseorang yang kulihat sekilas dan tidak bisa kuartikan. Daftar panjang hal-hal yang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah cukup selesai.
Pikiran yang bekerja seperti gulungan — satu ujungnya selalu tertarik oleh ujung yang lain, tidak pernah bisa diberhentikan dari tengah, harus menunggu sampai semuanya habis tergulung atau tubuh terlalu lelah untuk melanjutkan.
Aku menghitung napas. Teknik dari artikel yang pernah kubaca: tarik empat hitungan, tahan empat, lepas empat. Pernah berhasil beberapa kali. Sekarang aku menghitung sampai empat puluh dan masih terjaga, langit-langit kamar masih sama, pikiran masih berputar dengan kecepatan yang tidak peduli dengan hitungan.
Di kasur sebelah, Nisa tidur dalam hitungan menit. Napasnya teratur, sesekali bergumam sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi tapi terdengar seperti potongan percakapan dari mimpi yang tidak berat. Aku menatap langit-langit dan mendengarkan napasnya dan mencoba mengikutinya — tarik, lepas, tarik, lepas — tapi tidur Nisa tidak bisa dipinjam.
Di kursi belajarku, Hyeon Jae duduk.
Malam-malam insomnia biasanya miliknya — ia yang paling sering ada di jam-jam itu, dengan posisi yang tidak pernah berubah: satu kaki ditekuk di kursi, siku di lutut, dagu di tangan. Tidak mencoba menghibur. Tidak menawarkan solusi. Hanya ada, seperti lampu pilot di dapur tengah malam — tidak cukup terang untuk membaca, tapi cukup untuk memastikan kamu tidak benar-benar sendirian dalam gelap.