Tremor itu bukan hal baru.
Yang baru adalah frekuensinya.
Sebelumnya ia datang di momen-momen tertentu — sebelum lomba, sebelum presentasi, sebelum hal-hal yang punya nama dan alasan yang jelas. Sekarang ia datang kapan saja. Di tengah pelajaran, ketika guru sedang menjelaskan dan semua yang perlu kulakukan adalah duduk dan mendengarkan. Di antrean kantin, ketika tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali memilih lauk. Di lorong asrama, dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang sudah ribuan kali kutempuh.
Tanganku bergetar dan aku tidak selalu tahu kenapa.
Caraku menyembunyikannya sudah semakin terlatih: tangan di saku, tangan di bawah meja, tangan menggenggam sesuatu — pulpen, pinggiran buku, tepian kursi — dengan tekanan yang cukup untuk memberi ilusi stabilitas. Tapi ada lelah tersendiri dalam menyembunyikan sesuatu yang terus datang, seperti menutup pintu yang tidak punya kunci dan angin terus mendorongnya dari luar. Setiap kali berhasil disembunyikan, ada energi yang terpakai. Dan energi itu tidak selalu ada.
Insomnia adalah teman lama yang belakangan ini semakin tidak sopan jam bertandangnya.
Dulu ia datang setelah tengah malam, membiarkanku tidur dua tiga jam lebih dulu sebelum menarikku kembali ke kesadaran. Sekarang ia datang lebih awal — jam sepuluh, jam sebelas, tepat ketika seharusnya tubuh mulai melunak dan pikiran mulai mengendap.
Alih-alih mengendap, pikiranku justru paling ribut di jam-jam itu.
Bukan pikiran tentang sesuatu yang besar. Justru hal-hal kecil yang tidak seharusnya penting — kalimat yang kuucapkan tiga hari lalu dan mungkin terdengar salah, ekspresi seseorang yang kulihat sekilas dan tidak bisa kuartikan, daftar panjang hal-hal yang belum selesai dan mungkin tidak akan pernah cukup selesai. Pikiran yang bekerja seperti gulungan, satu ujungnya selalu ketarik oleh ujung yang lain.
Aku menghitung napas.
Teknik yang pernah kubaca di artikel tentang manajemen kecemasan: tarik napas empat hitungan, tahan empat hitungan, lepas empat hitungan. Aku pernah mencobanya dan berhasil beberapa kali. Sekarang aku menghitung sampai empat puluh dan masih terjaga, mataku menatap langit-langit yang sama, pikiranku masih berputar dengan kecepatan yang sama.
Di kasur sebelah, Nisa tidur dengan cara yang membuatku iri — terlelap dalam hitungan menit, napasnya teratur, sesekali bergumam sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi tapi terdengar seperti potongan percakapan dari mimpi yang menyenangkan.
Di sudut kamar, Hyeon Jae duduk di kursi belajarku.
Malam-malam insomnia biasanya milik Hyeon Jae — ia yang paling sering ada di jam-jam itu, duduk dengan posisi yang tidak berubah, tidak mencoba menghibur, tidak menawarkan solusi. Hanya ada, seperti lampu pilot yang menyala redup di dapur di tengah malam — tidak cukup terang untuk membaca, tapi cukup untuk memastikan kamu tidak benar-benar sendirian dalam gelap.
"Kamu harus tidur," katanya suatu malam.
"Aku tau."
"Besok ada ujian kimia."
"Aku tau."