Hari itu dimulai seperti hari-hari lain.
Alarm berbunyi dan aku tidak bergerak selama dua puluh menit. Nisa sudah di kamar mandi dan tidak tahu. Aku menatap langit-langit dengan pikiran yang kosong dengan cara yang bukan istirahat — karena kosong yang istirahat terasa lembut, dan ini terasa seperti kaca.
Lalu aku bangkit, bersiap, pergi ke kelas.
Ada pelajaran biologi, matematika, bahasa Indonesia. Ada tugas kelompok yang bagianku belum selesai. Ada hal-hal yang harus dilakukan dan aku melakukan semuanya dengan cara yang sudah terlatih — autopilot, hadir secara fisik, cukup merespons untuk terlihat terlibat. Satu hari penuh dijalankan seperti itu. Seperti seseorang yang tahu semua gerakan tariannya tapi lupa mengapa tariannya ada.
Sore hari aku kembali ke kamar lebih awal.
Nisa belum ada — ekskul sampai jam enam. Kamar sepi dengan cara yang kubayangkan akan menyenangkan, tapi ketika akhirnya ada di sini kesepiannya terasa lain. Bukan ketenangan. Lebih seperti kevakuman — ruang yang ditinggalkan oleh semua hal yang biasanya mengisi tanpa pernah ditanya apakah ia mau diisi.
Aku duduk di kasur, meletakkan tas, dan tidak bergerak.
Tangan di atas lutut. Mata ke dinding yang tidak ada apa-apanya. Tidak mengambil ponsel, tidak membuka laptop, tidak melakukan apapun yang produktif atau mengalihkan. Hanya duduk — karena di titik tertentu bahkan mengalihkan perhatian membutuhkan energi yang tidak ada.
Auristella hadir tidak lama kemudian, berbaring di kasur sebelah dengan cara seseorang yang sudah sangat familiar dengan ruangan ini.
"Hari yang panjang?" tanyanya.
"Semua hari panjang belakangan ini."
"Tapi yang ini lebih panjang."
Aku tidak membantah. Dan cerita itu keluar — tentang Kak Dira dan nama yang tidak disebut, tentang tremor yang makin sering dan insomnia yang makin awal, tentang notes di ponsel yang sudah empat puluh tujuh entri dan tidak ada yang tahu kecuali aku. Kata-kata keluar tidak berurutan, tidak disaring, seperti sesuatu yang selama ini hanya menemukan celah kecil untuk bernapas dan sekarang diberi pintu yang sedikit lebih besar.
Auristella mendengarkan semuanya. Tidak menyela. Tidak menawarkan solusi. Dan tertawa di satu bagian yang memang agak absurd.
"Kamu memang lucu," katanya.
"Itu tidak lucu."
"Sedikit lucu."
"Tidak sama sekali." Tapi aku sudah tersenyum juga, dan ada sesuatu di dada yang sedikit mengendap — tidak hilang, tidak diselesaikan, tapi tidak seberat sebelumnya. Seperti tekanan yang turun satu notch, cukup untuk bernapas dengan cara yang sedikit lebih penuh.
Pintu terbuka.
Nisa masuk dengan tas di satu bahu, botol minum di tangan, rambut agak berantakan setelah ekskul. Ia menutup pintu dengan tumit seperti biasa, membalik badan, dan melihat aku di kasur.
"Oh, kamu sudah di sini. Tadi lama banget ekskulnya, coachnya—"
Ia berhenti.
Matanya bergerak ke kasur sebelah.
Diam.
Bukan diam yang sedang memproses sesuatu — diam yang sudah memproses dan tidak tahu harus melakukan apa dengan hasilnya. Ia berdiri di sana dengan botol minum masih di tangan, matanya menatap titik yang sama dengan cara seseorang yang sedang memastikan sesuatu yang tidak ingin mereka pastikan.