Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #10

10. Retakan

Hari itu dimulai seperti hari-hari lain.

Aku bangun dua puluh menit setelah alarm berbunyi — lebih lama dari biasanya, tapi Nisa tidak mengomentarinya karena ia sudah di kamar mandi dan tidak tahu. Aku menatap langit-langit selama dua puluh menit itu dengan pikiran yang kosong dengan cara yang bukan istirahat, karena kosong yang istirahat terasa lembut dan ini terasa seperti kaca.

Lalu aku bangkit, bersiap, dan pergi ke kelas.

Hari itu ada pelajaran biologi, matematika, dan bahasa Indonesia. Ada latihan pagi yang aku lewatkan karena terbangun terlambat. Ada tugas kelompok yang hasilnya harus dikumpulkan besok dan bagianku belum selesai. Ada hal-hal yang harus dilakukan, dan aku melakukannya semua dengan cara yang sudah terlatih — autopilot, hadir secara fisik, cukup merespons untuk terlihat terlibat.

Sore hari aku kembali ke kamar lebih awal dari biasanya.

Nisa belum ada — ada kegiatan ekskul yang biasanya membawanya pulang sampai jam enam. Kamar sepi dengan cara yang seharusnya menyenangkan dan yang kubayangkan akan menyenangkan ketika aku berjalan pulang tadi, tapi ketika akhirnya ada di sini kesepiiannya terasa lain — bukan ketenangan, tapi kevakuman yang ditinggalkan oleh semua hal yang biasanya mengisi ruang.

Aku duduk di kasur, meletakkan tas, dan tidak bergerak.

Auristella muncul tidak lama kemudian. Ia masuk — atau hadir, aku tidak pernah bisa mendeskripsikan dengan tepat bagaimana ia berpindah dari tidak ada menjadi ada — dan langsung berbaring di kasur sebelah dengan cara seseorang yang sudah sangat familiar dengan ruangan ini.

"Hari yang panjang?" tanyanya.

"Semua hari panjang belakangan ini."

"Tapi yang ini lebih panjang."

Aku tidak membantah. Dan aku cerita — tentang Kak Dira dan program dan nama yang tidak disebut, tentang tremor yang makin sering dan insomnia yang makin awal, tentang Rayan dan notes di ponsel. Kata-kata keluar tidak berurutan, tidak rapi, tidak disaring, dan Auristella mendengarkan semuanya tanpa sekali pun berkata mungkin kamu yang salah atau nanti juga reda sendiri.

Ia hanya mendengarkan. Dan tertawa di bagian yang memang agak absurd.

"Kamu memang lucu," katanya.

"Itu tidak lucu."

"Sedikit lucu."

"Tidak sama sekali." Tapi aku sudah tersenyum juga, dan ada sesuatu di dada yang mengendap sedikit — tidak hilang, tapi tidak seberat tadi.

***

Pintu kamar terbuka.

Nisa masuk dengan tas di satu bahu dan botol minum di tangan, rambutnya agak berantakan setelah ekskul, sepatu masih belum dilepas karena ia biasanya melepasnya di dalam. Ia menutup pintu dengan tumit, membalik badan, dan melihat aku di kasur.

"Oh, kamu sudah di sini. Tadi lama banget ekskulnya, coachnya—"

Ia berhenti.

Matanya beralih ke kasur sebelahnya.

Aku mengikuti pandangannya. Auristella masih di sana — berbaring miring, menopang kepala dengan satu tangan, menatapku dengan ekspresi yang sama seperti tadi.

"Kamu lagi ngobrol sama siapa?" tanya Nisa.

"Auristella." Aku menunjuk ke arah kasur sebelah. "Teman yang aku ceritain dulu."

Nisa tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

Matanya menatap kasur sebelah. Lama. Dengan cara yang tidak bisa kuartikan — bukan mencari, bukan bingung, tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sesuatu yang terlihat seperti orang yang sedang memastikan sesuatu yang tidak ingin mereka pastikan. Ada hening yang berbeda antara hening yang menunggu sesuatu dengan hening yang sudah tahu.

Lihat selengkapnya