Pagi setelah malam itu berlangsung dengan cara yang terlalu normal.
Alarm berbunyi. Nisa bangun. Aku bangun. Kami bersiap dengan urutan yang sudah terbiasa — Nisa lebih dulu ke kamar mandi, aku membereskan kasur, lalu kami bergantian di depan cermin kecil yang tergantung di balik pintu. Tidak ada yang berkata sesuatu tentang semalam. Tidak ada yang membuka topik itu, tidak ada yang menyinggungnya bahkan dengan cara tidak langsung.
Kami berangkat ke kelas bersama.
Di lorong, Nisa bercerita tentang latihan ekskul kemarin yang molor karena coach-nya ada urusan mendadak. Aku mendengarkan dan menimpali di tempat yang tepat. Kami membeli sarapan di kantin depan dengan menu yang sama seperti Selasa-Selasa sebelumnya. Semua gerakan sama, semua kata sama, semua ritme sama. Tapi di bawah semua yang sama itu ada sesuatu yang sudah bergeser — tidak banyak, hanya cukup untuk terasa.
Ada yang berubah di cara Nisa melihatku.
Bukan perubahan yang bisa ditunjuk — ia tidak menghindari mataku, tidak bicara lebih singkat, tidak berdiri lebih jauh. Tapi ada jeda kecil yang tidak ada sebelumnya: jeda setengah detik sebelum ia menjawab kalau aku bertanya sesuatu, jeda dalam cara matanya berpindah ketika aku tiba-tiba berbicara duluan, jeda yang tidak bisa dijelaskan kecuali dengan kata berhati-hati.
Nisa sedang berhati-hati denganku.
Dan berhati-hati adalah cara orang memperlakukan sesuatu yang mereka tidak sepenuhnya mengerti tapi cukup takut untuk merusaknya. Aku mengerti kenapa. Tapi mengerti kenapa tidak membuat rasanya lebih mudah.
***
Yang lebih sulit dari sikap Nisa adalah fakta bahwa Auristella masih ada.
Aku pikir — atau berharap, lebih tepatnya — bahwa setelah tahu, sesuatu akan berubah. Bahwa mengetahui sesuatu tidak nyata akan membuatnya pergi, atau setidaknya membuatnya terlihat berbeda. Seperti efek lampu dinyalakan di ruangan gelap: semua yang tadinya tampak menakutkan tiba-tiba hanya jadi bayangan kursi dan tumpukan baju.
Tapi Auristella masih di sana.