Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #11

11. After

Pagi setelah malam itu berlangsung dengan cara yang terlalu normal.

Alarm berbunyi. Nisa bangun. Aku bangun. Kami bersiap dengan urutan yang sudah terbiasa — Nisa lebih dulu ke kamar mandi, aku membereskan kasur, lalu bergantian di depan cermin kecil di balik pintu. Tidak ada yang berkata sesuatu tentang semalam. Tidak ada yang membuka topik itu, tidak ada yang menyinggungnya bahkan dari jauh.

Kami berangkat ke kelas bersama.

Di lorong Nisa bercerita tentang ekskul kemarin yang molor karena coach-nya ada urusan mendadak. Aku mendengarkan dan menimpali di tempat yang tepat. Kami membeli sarapan di kantin dengan menu yang sama seperti Selasa-Selasa sebelumnya. Semua gerakan sama, semua kata sama, semua ritme sama.

Tapi di bawah semua yang sama itu ada sesuatu yang sudah bergeser.

Ada yang berubah di cara Nisa melihatku — perubahan yang tidak bisa ditunjuk, tapi bisa dirasakan. Ia tidak menghindari mataku, tidak bicara lebih singkat, tidak berdiri lebih jauh. Tapi ada jeda kecil yang tidak ada sebelumnya: setengah detik sebelum menjawab, sedikit hati-hati di cara matanya berpindah ketika aku tiba-tiba berbicara duluan. Cara orang memperlakukan sesuatu yang tidak sepenuhnya mereka mengerti tapi cukup takut untuk merusaknya.

Nisa sedang berhati-hati denganku.

Aku mengerti kenapa. Tapi mengerti kenapa tidak membuat rasanya lebih mudah.

Yang lebih sulit dari sikap Nisa adalah fakta bahwa Auristella masih ada.

Aku pikir — atau berharap, lebih tepatnya — bahwa setelah tahu, sesuatu akan berubah. Bahwa mengetahui sesuatu tidak nyata akan membuatnya pergi, atau setidaknya membuatnya terlihat berbeda. Seperti efek lampu dinyalakan di ruangan gelap: semua yang tadinya tampak menakutkan tiba-tiba hanya jadi bayangan kursi dan tumpukan baju.

Tapi Auristella masih di sana.

Masih di sudut meja belajar ketika aku pulang dari kelas. Masih muncul di momen-momen tenang yang dulu membuatku merasa ditemani. Masih menatap dengan cara yang sama, tersenyum dengan cara yang sama, berkata hal-hal yang masih terasa seperti kata-kata yang paling mengerti.

Dan yang paling menyulitkan: aku masih ingin ia di sana.

Malam itu, setelah Nisa tidur, aku duduk di meja belajar dengan lampu kecil menyala.

"Kamu tahu apa yang Nisa bilang," kataku. Bukan pertanyaan.

"Ya," kata Auristella dari kasur sebelah — kasur yang Nisa katakan kosong, kasur yang memang kosong kalau dilihat oleh siapapun selain aku.

"Dan kamu masih di sini."

"Ya."

Lihat selengkapnya