Kabar menyebar dengan cara yang tidak pernah bisa dibuktikan.
Tidak ada yang datang dan berkata sesuatu secara langsung. Tidak ada konfrontasi, tidak ada gosip yang bisa ditunjuk sumbernya. Hanya ada perubahan yang datang perlahan seperti air pasang — terlalu pelan untuk dilihat bergerak, tapi tiba-tiba kakimu sudah basah.
Yang pertama adalah soal partner tugas.
Di pelajaran Sejarah, guru meminta kami membentuk kelompok tiga orang. Aku menoleh ke kanan — Dinda, yang sudah duduk di sebelahku selama dua semester — dan Dinda sudah menoleh ke kiri, berbicara kepada Sari sebelum aku sempat membuka mulut. Kelompok terbentuk tanpa aku. Aku bergabung dengan dua orang yang juga tersisa, kami mengerjakan tugas dengan baik, tidak ada yang aneh.
Tapi ada yang berbeda dengan cara rasanya — cara ketersisihan itu terasa lebih akrab dari seharusnya. Lebih seperti konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama dicurigai daripada kejadian yang berdiri sendiri.
Yang kedua adalah meja makan.
Belakangan ini, ketika aku membawa nampan dan mencari tempat duduk, ada cara orang memandang layar ponsel sedikit lebih sibuk ketika aku mendekat. Percakapan yang tidak melambat untuk memberiku ruang masuk. Tidak ada yang berdiri dan berkata maaf kursi ini sudah ada yang punya — tidak ada yang sekeras itu. Hanya ada ruang yang tidak terbuka.
Semua itu bisa jadi kebetulan. Semua itu bisa jadi aku yang terlalu sensitif. Dan bagian yang paling melelahkan dari kalimat itu adalah aku sudah tidak tahu lagi mana yang benar.
Yang ketiga datang dari arah yang tidak kuduga.
Hari Rabu siang di lorong depan ruang OSIS, Kak Dira berjalan ke arahku dengan senyum yang sudah sangat kukenal. Aku sudah mempersiapkan diri untuk percakapan pendek yang sopan — saling sapa, saling tanya kabar, selesai. Formula yang sudah terlatih.
Tapi kali ini ia berhenti.
"Shei, sebentar ya." Ia tidak menurunkan suaranya tapi ada sesuatu di nadanya yang berbeda dari biasanya — nada orang yang sudah menyiapkan sesuatu. "Aku mau ngomong sesuatu yang mungkin agak susah didengar."
Aku diam. Di sekelilingku, lorong masih ramai — ada beberapa anak yang lewat, ada percakapan dari arah ruang OSIS yang pintunya terbuka setengah. Semua orang punya tempat yang harus dituju. Hanya kami berdua yang berdiri di titik ini.
"Ada beberapa teman yang cerita ke aku," kata Kak Dira. "Mereka khawatir tentang kamu. Katanya kamu sering kelihatan tidak fokus, kadang seperti ngobrol sendiri." Ia menatapku dengan ekspresi yang ingin terlihat seperti kepedulian tapi ada lapisan lain di bawahnya yang tidak bisa kukategorikan dengan cepat. "Aku hanya ingin mastiin kamu baik-baik saja. Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan—"
"Aku baik-baik saja, Kak." Kalimat itu keluar sebelum sempat dipikirkan. Formula yang paling otomatis.
"Kamu yakin?" Matanya tidak berpindah dari wajahku. "Karena untuk program lanjutan yang aku rencanakan, aku butuh orang yang benar-benar bisa fokus. Dan aku mau jujur — beberapa orang sudah tanya ke aku tentang kamu. Apakah kamu dalam kondisi yang tepat untuk diandalkan."
Udara di lorong itu terasa berubah.
Apakah kamu dalam kondisi yang tepat untuk diandalkan.
Ada beberapa cara untuk merespons kalimat itu. Aku bisa berkata iya, aku bisa, beri aku kesempatan — dan bagian dari diriku yang sudah sangat terlatih menginginkan sesuatu yang konkret, sesuatu yang bisa dikerjakan sampai larut malam sampai dua puluh halaman, sudah mau mengucapkannya. Ada juga cara kedua: bertanya siapa yang bercerita, apa yang diceritakan, kenapa percakapan ini terjadi di lorong yang ramai dan bukan di tempat yang lebih privat. Ada cara ketiga yang lebih jujur dari keduanya tapi juga yang paling mustahil untuk keluar: mengatakan bahwa tidak tahu, bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres, bahwa pertanyaan itu sendiri sudah cukup berat untuk membuat tangan gemetar di dalam saku.