Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #12

12. Jarak Satu Langkah

Kabar menyebar dengan cara yang tidak pernah bisa dibuktikan.

Tidak ada yang bicara secara langsung. Tidak ada yang datang dan berkata aku dengar kamu bicara sendiri di kamar atau Nisa cerita sesuatu tentangmu. Tidak ada konfrontasi, tidak ada gosip yang bisa ditunjuk sebagai sumbernya.

Hanya ada perubahan yang datang perlahan seperti air pasang — terlalu pelan untuk dilihat bergerak, tapi tiba-tiba kamu sadar bahwa kakimu sudah basah.

Pertama-tama adalah soal partner tugas. Di pelajaran Sejarah, guru meminta kami membentuk kelompok tiga orang. Aku menoleh ke kanan — Dinda, yang sudah duduk di sebelahku selama dua semester — dan Dinda sudah menoleh ke kiri, berbicara kepada Sari yang duduk di sisinya, sebelum aku sempat membuka mulut. Kelompok terbentuk tanpa aku.

Tidak ada yang salah dengan itu. Kelompok terbentuk secara organik, Dinda dan Sari memang selalu dekat, aku tidak selalu harus ada di kelompok yang sama dengan orang yang sama. Semua itu benar. Tapi ada yang berbeda dengan cara rasanya kali ini — cara ketersisihan itu terasa lebih akrab dari seharusnya, lebih familiar, lebih seperti konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama dicurigai.

Kedua adalah soal meja makan. Aku tidak pernah punya meja tetap di kantin — bukan anak yang punya geng dengan kursi yang tidak tertulis tapi terasa seperti milik mereka. Aku biasanya duduk di mana ada tempat kosong yang dekat dengan seseorang yang kukenal.

Tapi belakangan ini, ketika aku membawa nampan dan mencari tempat duduk, sesuatu sudah berubah. Tidak ada yang berdiri dan berkata maaf tempat ini sudah ada yang punya. Tapi ada cara orang memandang layar ponsel sedikit lebih sibuk ketika aku mendekat, ada percakapan yang tidak melambat untuk memberiku ruang masuk.

Semua itu bisa jadi kebetulan. Semua itu bisa jadi aku yang terlalu sensitif.

Mungkin iya.

Ketiga adalah Kak Dira. Ia masih menyapa di koridor. Masih tersenyum dengan senyum yang sama. Tapi tidak ada lagi ajakan untuk program berikutnya, tidak ada lagi aku butuh orang yang bisa diandalkan. Aku sudah tidak diandalkan.

Lihat selengkapnya