Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #13

13. Rayan yang Tidak Tau

Hari itu bukan hari yang istimewa.

Tidak ada lomba, tidak ada deadline besar, tidak ada hal yang seharusnya membuat Kamis itu berbeda dari Kamis-Kamis sebelumnya. Aku berjalan dari kelas menuju perpustakaan dengan rute yang sudah hafal — belok kiri setelah ruang musik, lurus sampai tangga, naik satu lantai, belok kanan.

Di tangga, aku melihat Rayan.

Ia tidak sendirian.

Ia berjalan bersama seseorang — perempuan dari kelas lain yang aku tidak hafal namanya, dengan tas selempang merah dan rambut diikat setengah. Mereka berbicara dengan cara orang yang sudah terbiasa berbicara satu sama lain: tidak ada kekakuan, tidak ada jeda mencari kata, hanya percakapan yang mengalir seperti air yang sudah tahu jalurnya.

Rayan tertawa.

Bukan tawa yang sering kulihat di perpustakaan — tawa kecil yang keluar ketika sesuatu memang agak lucu tapi tidak perlu dirayakan. Ini tawa yang lebih lepas dari itu. Tawa dari seseorang yang sedang benar-benar hadir, yang tidak memikirkan hal lain, yang tidak menghitung apapun.

Aku berdiri di tangga selama tiga detik.

Mereka tidak melihat ke arahku. Mereka belok ke arah yang berbeda, percakapan berlanjut, dan dalam dua puluh detik sudah tidak terlihat di balik belokan koridor. Aku menghitung dua puluh detik itu. Tidak tahu kenapa menghitung — hanya terasa penting untuk memiliki angkanya, untuk memastikan ada sesuatu yang konkret dari momen itu yang bisa dipegang.

Di perpustakaan, aku duduk di meja biasa dan membuka buku yang sudah kubawa.

Tidak membacanya.

Teks di halaman ada di depan mataku tapi tidak masuk — huruf-hurufnya terbaca tapi tidak membentuk makna. Aku duduk seperti itu selama beberapa menit, membiarkan suara perpustakaan berlangsung di sekelilingku: suara kertas, suara AC, sesekali suara kursi bergeser. Hal-hal yang tidak memintaku menjadi apapun.

Lalu aku membuka notes di ponselku. File tentang Rayan.

Dari entri pertama sampai yang terakhir. Empat puluh tujuh entri — dari tadi dia yang ingat mengingatkan jadwal sampai tadi dia yang ingat aku mau minum — dibaca satu per satu, pelan, dengan cara yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Bukan membaca untuk mencari bukti. Bukan membaca untuk memverifikasi sesuatu. Membaca seperti orang asing yang menemukan jurnal milik seseorang yang tidak mereka kenal, dengan jarak yang cukup untuk melihat dari luar.

Dan yang terlihat dari luar adalah ini:

Betapa kecilnya semuanya.

Bukan kecil dalam arti tidak penting — tapi kecil dalam arti bahwa momen-momen itu, kalau dilihat tanpa filter, adalah momen yang paling biasa yang bisa dibayangkan. Seseorang mengingatkan jadwal. Seseorang menggeser teko. Seseorang menyebut nama duluan sebelum pergi. Hal-hal yang dilakukan siapapun kepada siapapun, setiap hari, tanpa makna khusus.

Dan dari remah-remah itu aku telah membangun cerita yang cukup besar untuk mengisi bagian dada yang sudah terlalu lama kosong.

Bukan karena bodoh. Bukan karena tidak tahu lebih baik. Tapi karena otak yang terlalu lama tidak mendapatkan cukup — tidak cukup dilihat, tidak cukup didengar, tidak cukup diakui sebagai seseorang yang layak ada — akan mengambil apapun yang tersedia dan membuatnya cukup. Itu bukan kelemahan. Itu cara bertahan. Tapi cara bertahan yang sudah terlalu lama dijalankan mulai memakan energi yang tidak ada.

Lihat selengkapnya