Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #14

14. Surat yang Tidak Dikirim

Aku mulai menulisnya tanpa rencana.

Tengah malam, Nisa sudah tidur, lampu meja menyala dengan cahaya yang cukup untuk melihat kertas tapi tidak cukup untuk mengganggu. Aku tidak tahu mau menulis apa — hanya tahu bahwa ada sesuatu di dalam dada yang sudah terlalu lama minta keluar dan tidak punya pintu. Ada tekanan yang akumulatif, yang tidak punya satu sumber yang bisa ditunjuk — bukan satu kejadian, tapi lapisan demi lapisan dari hal-hal kecil yang masing-masing terlalu kecil untuk dijadikan alasan.

Jadi aku memberi pintu.

Pulpen menyentuh kertas dan aku membiarkan tangan yang memimpin, bukan kepala.

Untuk Shei yang masih percaya semuanya baik-baik saja,

Aku ingin cerita sesuatu. Bukan untuk menyalahkan atau menghakimi — aku tidak punya hak untuk itu, karena aku adalah kamu juga, hanya dari sudut yang sedikit berbeda.

Kamu tahu cara menekan jari ke paha supaya tangan tidak gemetar di foto keluarga. Kamu tahu sudut kepala yang paling menyembunyikan kantung mata. Kamu tahu kapan harus tertawa dan berapa lama jeda yang tepat sebelum mengangguk.

Kamu sangat pandai menjadi penampil.

Dan tidak ada yang pernah memberitahumu bahwa kamu tidak seharusnya harus bekerja sekeras itu hanya untuk terlihat hadir.

Aku mau memberitahumu sekarang.

Kamu tidak perlu memenangkan apapun untuk berhak dicintai.

Aku berhenti.

Membaca ulang kalimat terakhir itu. Ada sesuatu tentang melihat kalimat itu di atas kertas dengan tulisan tanganmu sendiri — berbeda dari membacanya di poster atau di caption yang dikutip dari buku. Ketika ditulis tangan, ia punya tekstur yang berbeda. Lebih berat, sedikit. Lebih susah untuk diabaikan begitu saja.

Aku melanjutkan.

Aku tahu itu terdengar seperti kalimat dari poster motivasi murahan di dinding ruang BK, dan mungkin memang begitu bunyinya. Tapi aku menulis ini di tengah malam setelah membaca catatan-catatan yang kamu simpan tentang seorang laki-laki yang bahkan tidak tahu ia menjadi alasanmu bertahan — dan aku merasa kalimat itu perlu diucapkan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya ditempel di dinding.

Kamu tidak perlu memenangkan lomba esai untuk layak disebut namanya.

Kamu tidak perlu menyusun dua puluh halaman proposal untuk layak dihargai.

Kamu tidak perlu menjadi berguna untuk berhak ada di ruangan.

Tanganku berhenti sebentar di sini.

Tiga kalimat itu duduk di atas kertas dengan cara yang terasa seperti akusasi — bukan dari luar, tapi dari dalam, dari bagian yang sudah sangat lama menyaksikan tanpa diberi izin untuk berbicara. Aku membacanya tiga kali. Tidak menghapusnya.

Aku tahu kamu lelah.

Bukan lelah seperti habis olahraga — lelah yang itu bisa diselesaikan dengan tidur. Ini lelah yang berbeda: lelah dari terus berpura-pura bahwa ukuran baju yang tidak pas itu sebenarnya pas kalau kamu berdiri dengan postur yang benar. Lelah dari menghitung napas supaya tidak kelihatan panik. Lelah dari mengedit ulang ceritamu sendiri setiap kali ada seseorang yang bilang mungkin kamu yang salah paham.

Lihat selengkapnya