Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #15

15. Kabar Pindah

Pengumuman itu datang pada Senin pagi lewat surat yang diselipkan di bawah pintu.

Aku menemukannya setelah alarm berbunyi, ketika sedang dalam fase menatap langit-langit yang sekarang berdurasi lebih pendek dari sebelumnya — tiga belas menit alih-alih dua puluh. Kemajuan yang tidak terlihat adalah jenis kemajuan yang paling tidak dirayakan dan paling nyata. Aku mengukurnya sendiri, menyimpannya sendiri, merayakannya sendiri dengan cara yang tidak terlihat seperti perayaan dari luar.

Amplop putih tipis. Nama kamar di depan dalam tulisan tangan pengurus.

Aku membukanya sambil duduk di tepi kasur.

Kamar yang terdampak: 210, 212, 214, 216. Penghuni kamar 214: Sheira Pradana & Nisa Rahmawati akan dipindahkan ke kamar 312.

Aku membaca surat itu dua kali. Meletakkannya di meja. Menatapnya.

Kamar 214 adalah kamarku sejak semester satu — dua tahun, cukup lama untuk mengetahui suara mana dari lorong yang menandakan jam makan malam hampir habis, cara cahaya pagi masuk dari celah gorden dengan sudut yang berubah tergantung musim. Yang lebih penting: di kamar ini ada keseimbangan yang terbentuk tanpa disengaja. Keseimbangan antara apa yang kukatakan dan apa yang kutahan, antara kapan Nisa bertanya dan kapan ia berhenti, antara dunia di dalam kepala dan dunia di luar yang tidak tahu apa-apa.

Di kamar baru, tidak ada keseimbangan apa-apa.

"Kamu baca belum?" Nisa masuk dari kamar mandi dengan rambut masih agak basah. Matanya langsung ke surat. "Oh. Sudah."

"Kamu tahu sebelumnya?"

"Baru tahu sekarang juga." Ia membaca. "Lantai tiga." Menghela napas. "Yah. Lumayan ribet pindah-pindahannya."

Aku tidak menjawab.

Nisa melirik dengan ekspresi yang tidak langsung bisa kubaca — bukan khawatir, bukan tidak peduli, sesuatu di antaranya yang lebih terasa seperti memperhatikan dari jauh karena tidak tahu seberapa dekat yang aman.

"Shei. Kamu baik-baik saja?"

Formula lama. Jawaban lamanya sudah ada di ujung lidah. Tapi hari itu terasa seperti pakaian yang sudah tidak pas di badan.

"Belum tentu," kataku.

Nisa terdiam.

"Tapi aku akan baik-baik saja," tambahku — bukan untuk meyakinkan Nisa, tapi untuk meyakinkan diri sendiri, yang juga butuh mendengar kalimat itu meski belum sepenuhnya percaya itu benar.

Nisa mengangguk pelan. Tidak mendesak. Kembali ke rutinitas paginya.

Lihat selengkapnya