Kamar 312 berbeda dari 214 dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata fisik.
Ukurannya sama. Jumlah jendela sama. Kasur, meja belajar, lemari — semua ada di posisi yang hampir sama. Tapi ada sesuatu tentang ruangan yang belum pernah ditinggali cukup lama yang membuat suaranya berbeda ketika kamu berbicara di dalamnya — semacam gema kecil yang tidak ada setelah dinding sudah menyerap cukup banyak suara dari penghuninya.
Kamar 312 belum menyerap suaraku. Belum mengenalku. Dan aku harus mulai lagi dari nol dengan ruangan yang tidak mengenalku, di lantai yang tidak kukenal, dengan rutinitas yang harus dibangun ulang dari awal.
Teman sekamar baruku bernama Wulan — anak kelas sebelas yang pendiam dan tidak banyak bertanya. Aku menganggap itu sebagai keberuntungan kecil di tengah semua perubahan. Ia punya kebiasaan tidur lebih awal dari siapapun di lantai ini, kebiasaan menaruh buku dengan cara yang tidak sistematis tapi selalu bisa menemukan yang dicari, dan kebiasaan menyapa dengan anggukan kepala yang cukup sopan tapi tidak memaksakan percakapan. Kami belum membangun bahasa diam, tapi ada potensinya.
Minggu pertama di kamar baru, Auristella dan Hyeon Jae datang seperti biasa. Yang berbeda adalah konteksnya — di kamar lama, kedatangan mereka terasa seperti bagian dari ruangan itu sendiri. Di kamar baru, kedatangan mereka lebih terlihat. Lebih mencolok, meski tidak ada yang bisa melihatnya selain aku.
Dan mungkin karena itu, kejadian pertama terjadi.
***
Hari Rabu, jam pelajaran ketiga. Pelajaran Sejarah.
Pak Endra sedang menjelaskan tentang Perang Dunia Kedua dengan cara yang cukup menarik kalau pikiranku sedang di sana. Tapi pikiranku tidak sepenuhnya di sana — ada sebagian yang masih di kamar baru, menghitung hari sampai kamar itu terasa seperti milikku.
Auristella duduk di kursi kosong dua bangku dari tempatku.
Aku melihatnya dari sudut mata.
Di kamar, ini biasa. Di perpustakaan, ini biasa. Tapi di kelas, di tengah tiga puluh orang yang hadir secara fisik, ada sesuatu yang berbeda. Ada ketidakcocokan antara dunia di dalam kepalaku dan dunia di luar yang bergerak tanpa mengetahui apa yang ada di dalam.
Auristella menoleh ke arahku.
Aku menoleh ke papan tulis.
Pak Endra masih berbicara. Tidak ada yang memperhatikanku. Tapi jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari seharusnya, dan aku menghitung napas dengan cara yang sudah terlatih. Empat hitungan masuk, empat hitungan tahan, empat hitungan keluar. Lagi. Lagi.
Ini biasa. Ini hanya pikiran. Pikiran tidak berbahaya.
Tapi ada yang mulai terasa berbeda tentang cara ini biasa terasa.