Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #16

16. Tamu yang Tidak Bisa Pergi

Kamar 312 berbeda dari 214 dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata fisik.

Ukurannya sama. Jumlah jendela sama. Kasur, meja belajar, lemari — semua di posisi yang hampir sama. Tapi ada sesuatu tentang ruangan yang belum pernah ditinggali cukup lama yang membuat suaranya berbeda ketika kamu berbicara di dalamnya — semacam gema kecil yang tidak ada setelah dinding sudah menyerap cukup banyak suara dari penghuninya.

Kamar 312 belum menyerap suaraku. Belum mengenalku.

Teman sekamar baruku bernama Wulan — kelas sebelas, pendiam, tidak banyak bertanya. Aku menganggap itu sebagai keberuntungan kecil. Ia punya kebiasaan tidur lebih awal dari siapapun di lantai ini dan kebiasaan menyapa dengan anggukan yang cukup sopan tapi tidak memaksakan percakapan. Berbeda dari Nisa yang mengisi kamar dengan energi yang kadang terlalu besar untuk jam delapan pagi, Wulan mengisi kamar dengan keheningan yang tidak menuntut apapun.

Tapi keheningan yang berbeda jenisnya dari keheningan yang sudah kukenal.

Suatu pagi di minggu pertama, aku sedang di meja belajar mencoba menyelesaikan bacaan untuk pelajaran pertama. Wulan bersiap di sisi kamarnya dengan gerakan yang efisien — mengambil buku, memasukkan ke tas, mengecek seragam, semua dalam urutan yang tidak membuang waktu.

Di tengah-tengah itu ia berkata, tanpa menoleh: "Kemarin kamu ngobrol sendiri ya."

Aku berhenti membaca.

"Jam berapa?" tanyaku, dengan suara yang aku usahakan terdengar biasa.

"Malam. Sekitar jam sepuluh." Wulan mengancingkan seragamnya. "Aku pikir mungkin kamu telepon seseorang, tapi tidak ada suara dari ponsel." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang tidak menghakimi tapi juga tidak berpura-pura tidak melihat: "Tidak apa-apa. Aku cuma mau bilang kalau kamu perlu sesuatu, boleh ngomong."

Lalu ia mengambil tasnya dan pergi ke kamar mandi.

Aku menatap halaman bacaan yang tidak lagi bisa kuproses.

Ada sesuatu tentang cara Wulan mengatakannya — singkat, tidak dramatis, tidak memintaku memberikan penjelasan — yang lebih mengguncang dari kalau ia bertanya panjang lebar. Karena panjang lebar bisa dinavigasi: ada formula untuk menjawab pertanyaan yang panjang, ada cara memberi cukup informasi tanpa memberi terlalu banyak. Tapi satu kalimat pendek yang tidak menuntut balasan — itu lebih susah dikelola. Lebih susah dilipat dan disimpan di laci.

Kemarin kamu ngobrol sendiri.

Bukan tuduhan. Hanya fakta yang dilihat oleh seseorang yang baru dua minggu mengenal kamar yang sama.

Lihat selengkapnya