Trigger-nya adalah foto.
Bukan foto besar, bukan foto penting — hanya foto yang muncul di memori ponsel, notifikasi otomatis yang muncul setiap tahun: Kenangan hari ini, dua tahun lalu. Foto makan malam keluarga di rumah Nenek di Jogja. Ibu tertawa karena sesuatu yang sudah tidak kuingat. Kak Reno menutupi wajah dengan tangan karena tidak mau difoto. Papa duduk tegak seperti biasa tapi ada senyum kecil yang biasanya tidak ada.
Dan aku, di ujung meja, tersenyum dengan sudut kepala dua senti ke kanan.
Sudah dua tahun melakukan formula yang sama. Sudah dua tahun tidak pernah bilang kepada siapapun bahwa ada sesuatu di dalam tubuh yang tidak bisa menemukan posisi nyaman. Dua tahun bukan angka yang kecil. Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun kebiasaan, membangun karakter, membangun versi diri yang stabil dan bisa diandalkan — atau membangun dinding yang semakin rapi setiap lapisnya.
Aku menutup notifikasi. Lalu membukanya lagi. Lalu menutup lagi.
Jam sembilan malam kamar 312 sudah sepi. Wulan sudah hampir tidur. Aku duduk di meja belajar dengan lampu kecil menyala, buku terbuka di depanku, tapi sudah dua jam tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala.
Tremor malam itu tidak bisa disembunyikan dengan cara biasa. Bukan karena lebih kencang dari biasanya — tapi karena malam itu aku terlalu lelah untuk aktif menyembunyikannya. Tangan di atas meja, gemetar pelan, dan aku hanya menatapnya tanpa melakukan apa-apa.
Ini tanganku.
Ini sudah berlangsung terlalu lama.
Jam sepuluh, Auristella muncul. Hyeon Jae menyusul tidak lama kemudian, berdiri di dekat jendela dengan tangan di saku.
"Foto tadi?" tanya Auristella.
"Iya."
"Keluargamu terlihat senang di sana."
"Mereka memang senang." Aku menatap tanganku. "Aku juga terlihat senang."
"Tapi tidak benar-benar senang."
"Tidak sepenuhnya."
Hening sejenak. Dari jendela, Hyeon Jae berkata tanpa menoleh:
"Kamu tidak apa-apa, Shei."
"Aku tau."