Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #17

17. Malam Paling Panjang

Trigger-nya adalah foto.

Bukan foto besar, bukan foto penting — hanya foto yang muncul di memori ponsel, notifikasi otomatis yang muncul setiap tahun: Kenangan hari ini, dua tahun lalu. Foto makan malam keluarga di rumah Nenek di Jogja. Ibu tertawa karena sesuatu yang sudah tidak kuingat. Kak Reno menutupi wajah dengan tangan karena tidak mau difoto. Papa duduk tegak seperti biasa tapi ada senyum kecil yang biasanya tidak ada.

Dan aku, di ujung meja, tersenyum dengan sudut kepala dua senti ke kanan.

Aku menutup notifikasi. Membukanya lagi. Menutup lagi.

Sudah dua tahun melakukan formula yang sama. Sudah dua tahun tidak pernah bilang kepada siapapun bahwa ada sesuatu di dalam tubuh yang tidak bisa menemukan posisi nyaman. Dua tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun kebiasaan, membangun karakter, membangun versi diri yang stabil dan bisa diandalkan — atau membangun dinding yang semakin rapi setiap lapisnya. Dan aku tidak bisa lagi membedakan yang mana yang sudah kubangun.

Jam sembilan malam kamar 312 sudah sepi. Wulan sudah hampir tidur. Aku duduk di meja belajar dengan lampu kecil menyala, buku terbuka di depanku, tapi sudah dua jam tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala. Tangan di atas meja, gemetar pelan — dan malam itu aku hanya menatapnya tanpa melakukan apa-apa. Tanpa menekan ke sisi paha, tanpa menggenggam sesuatu untuk memberi ilusi stabilitas. Hanya menatap.

Ini tanganku.

Ini sudah berlangsung terlalu lama.

Auristella muncul jam sepuluh. Hyeon Jae menyusul tidak lama kemudian, berdiri di dekat jendela dengan tangan di saku dan mata ke luar — ke asrama yang sudah gelap sebagian, ke langit yang tidak bisa diputuskan mau jadi apa.

"Foto tadi?" tanya Auristella.

"Iya."

"Keluargamu terlihat senang di sana."

"Mereka memang senang." Aku menatap tanganku. "Aku juga terlihat senang."

"Tapi tidak benar-benar senang."

"Tidak sepenuhnya."

Dari jendela, tanpa menoleh, Hyeon Jae berkata: "Kamu tidak apa-apa, Shei."

"Aku tahu."

"Bukan dalam arti tidak apa-apa yang berarti semuanya baik-baik saja." Ia akhirnya menoleh. Matanya selalu berbeda dari Auristella — lebih diam, lebih dalam, seperti mata seseorang yang sudah terlalu sering menyaksikan tanpa bisa melakukan apapun. "Dalam arti kamu tidak apa-apa untuk merasa seperti ini. Ini tidak membuatmu rusak."

Tenggorokanku terasa aneh.

"Aku lelah," kataku. Dan kali ini lelah bukan kata yang dipilih dengan hati-hati untuk terdengar tidak terlalu mengkhawatirkan — hanya kalimat paling jujur yang bisa keluar. "Aku sangat lelah, Jae. Bukan lelah yang bisa diselesaikan dengan tidur. Bukan lelah yang bisa diselesaikan dengan liburan atau libur dari tugas atau libur dari apapun yang ada jadwalnya." Suaraku terdengar aneh di kamar yang belum mengenalku. "Lelah dari terus membawa sesuatu yang tidak punya nama tapi tidak pernah tidak ada."

Hyeon Jae meninggalkan jendela dan duduk di kursi belajarku — kursi yang selalu jadi tempatnya, di semua kamar, di semua malam. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ada yang berbeda tentang cara ia duduk malam ini — lebih dekat, lebih sengaja, seperti seseorang yang memutuskan untuk tidak berdiri jauh malam ini.

"Ada batas yang tidak bisa aku lampaui," katanya akhirnya, pelan. "Kamu tahu itu."

Lihat selengkapnya