Pagi itu aku bangun sebelum alarm.
Bukan karena tidak bisa tidur lagi — tapi karena sudah tidur. Sudah cukup. Ada perbedaan antara terbangun karena tubuh menyerah dengan terbangun karena tubuh sudah selesai beristirahat, dan pagi itu rasanya adalah yang kedua, meski hanya sebagian. Tubuh yang sudah cukup berbeda dari tubuh yang menyerah — yang pertama terasa seperti tanah setelah hujan, yang kedua seperti tanah yang terlalu kering untuk menyerap apapun.
Aku duduk di tepi kasur.
Wulan masih tidur. Kamar sepi dengan cara yang berbeda dari malam-malam sebelumnya — bukan sepi yang penuh tekanan, tapi sepi yang lebih ringan. Aku menatap tanganku. Masih sedikit gemetar. Mungkin akan selalu sedikit gemetar untuk sementara waktu. Tapi aku menatapnya tanpa memalingkan muka, tanpa langsung menekan jari ke paha untuk menyembunyikannya — hanya menatap dengan cara orang yang sedang belajar menerima sesuatu yang sudah terlalu lama dipura-purakan tidak ada.
Ini tanganku.
Ini yang sedang terjadi.
Dan aku butuh bantuan.
Aku tidak bergerak dengan dramatis pagi itu. Tidak ada momen besar, tidak ada keputusan yang terasa seperti turning point yang bisa diceritakan kepada orang lain dengan cara yang terdengar heroik. Hanya seorang gadis yang bangun lebih awal dari biasanya, duduk di tepi kasur, dan memutuskan satu hal kecil: