Ruang BK jam empat sore berbeda dari jam pagi.
Jam pagi, Bu Hesti biasanya masih dengan map-map di atas meja dan satu cangkir teh yang baru saja diseduh. Jam empat sore, mejanya sudah lebih bersih, teh sudah diganti air putih, dan ada sesuatu tentang cahaya sore yang masuk dari jendela kecil di sisi ruangan yang membuat semuanya terasa sedikit lebih lunak. Sudut-sudut yang tajam di pagi hari jadi lebih tumpul di sore. Cahaya yang masuk miring bukan mempertegas tapi melembutkan.
Aku duduk di sofa dua dudukan yang sudah agak kempes di bagian tengah.
Bu Hesti duduk di kursinya, tidak ada map di tangannya, tidak ada pulpen. Hanya ia dan aku dan cahaya sore yang masuk miring dari jendela. Ruangan ini terasa seperti jenis keheningan yang berbeda dari biasanya — bukan hening yang menunggu sesuatu, tapi hening yang sudah cukup lama ada untuk menjadi nyaman.
"Makasih sudah datang," katanya.
"Makasih sudah mau."
"Ini bukan soal mau atau tidak." Ia tersenyum. "Ini memang tugasku. Tapi lebih dari itu — aku senang kamu menghubungi."
Aku mengangguk pelan.
"Kita mulai dari mana kamu mau mulai," katanya. "Tidak ada urutan yang harus diikuti. Tidak ada yang harus diceritakan kalau belum siap. Ini waktumu."
Ini waktumu.
Tiga kata yang sederhana tapi terasa seperti sesuatu yang tidak pernah cukup banyak kudengar — bahwa ada waktu yang benar-benar milikku, ruang yang tidak harus diisi dengan performa atau produktivitas atau usaha membuktikan bahwa aku layak ada di dalamnya. Waktu yang tidak menagih.