Tiga hari setelah sesi dengan Bu Hesti.
Aku duduk di perpustakaan — bukan untuk bertemu Rayan, tapi karena perpustakaan adalah tempat yang paling mudah untuk duduk diam tanpa ada yang bertanya kenapa kamu diam. Meja di sudut, buku yang belum tentu akan dibaca, dan ponsel di samping yang sesekali kulihat.
Aku membuka file tentang Rayan.
Empat puluh tujuh entri.
Aku membacanya sekali lagi — bukan dengan cara seperti dua minggu lalu ketika mataku mencari makna di balik setiap kalimat, tapi dengan cara yang lebih tenang, cara orang yang sedang membereskan sesuatu yang sudah selesai. Seperti merapikan buku yang sudah habis dibaca sebelum dikembalikan ke rak.
Setiap entri, aku baca. Lalu hapus.
Tadi dia yang ingat mengingatkan jadwal. Hapus.
Ia menyebut namaku duluan sebelum pergi. Hapus.
Tadi dia lihat ke arahku duluan sebelum pengumuman. Hapus.
Waktu gelap tadi, kurasa ia sengaja duduk lebih dekat. Hapus.
Empat puluh tujuh entri.