Malam sebelum sesi kedua dengan Bu Hesti.
Kamar 312 sudah mulai terasa sedikit lebih seperti milikku — bukan karena sesuatu yang besar berubah, tapi karena waktu bekerja dengan caranya sendiri, dan tiga minggu sudah cukup untuk dinding-dinding ini menyerap sedikit suaraku. Wulan sudah tidur dengan teraturnya. Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke tepi kasur, kaki terjulur di depan — bukan di kasur, bukan di kursi, di lantai karena ada malam-malam yang membutuhkan posisi yang paling dekat dengan bumi.
Auristella duduk di sebelahku. Hyeon Jae di kursi belajar, seperti biasa.
Kami bertiga tidak berbicara untuk beberapa saat — hanya ada bersama dalam cara yang sudah sangat familiar, dengan semua ritmenya yang tidak pernah perlu dijelaskan. Suara kipas angin. Suara napas Wulan yang teratur. Suara asrama yang sudah hampir tertidur di luar jendela. Jenis diam yang tidak menuntut apapun.
"Besok sesi kedua," kata Auristella akhirnya.
"Iya."
"Kamu siap?"
Aku memikirkannya sungguhan — bukan jawaban yang otomatis, bukan yang sudah tersedia sebelum pertanyaannya selesai.
"Belum sepenuhnya. Tapi cukup siap untuk pergi."
Auristella mengangguk. Hyeon Jae tidak bergerak dari kursinya, tapi aku merasakan cara perhatiannya bergeser — dari jendela, ke arahku, dengan cara yang tidak pernah membutuhkan gerakan yang besar.
"Ada yang mau kamu ceritakan besok yang belum pernah kamu ceritakan ke siapapun?" tanya Auristella.
"Banyak." Aku menatap karpet di depanku. "Tapi mungkin mulai dari yang paling mendasar dulu. Tentang kalian."
Hening sejenak.
"Tentang kami?" kata Auristella.
"Tentang bagaimana kalian ada. Tentang kenapa kalian ada." Aku akhirnya menatapnya. "Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya tanpa terdengar seperti seseorang yang perlu dikhawatirkan."
"Kamu tidak perlu khawatir tentang bagaimana kedengarannya," kata Hyeon Jae dari kursinya — suaranya lebih pelan dari biasanya, tapi tidak kurang jelas. "Kamu perlu khawatir tentang apakah yang kamu katakan jujur. Kedengarannya bisa diurus nanti."
Aku menatap ke arahnya.
Ia masih di kursi belajar dengan posisi yang sama — satu kaki ditekuk, siku di lutut, dagu di tangan. Posisi yang sudah sangat kukenal dari begitu banyak malam. Tapi malam ini ada sesuatu yang berbeda tentang cara ia ada — lebih penuh perhatian dari biasanya, lebih hadir dengan cara yang terasa seperti seseorang yang tahu bahwa waktu untuk sesuatu semakin dekat.
"Jae," kataku pelan.
"Hm."