Bu Hesti tidak langsung bertanya tentang hal besar.
Itu yang pertama aku perhatikan ketika masuk ke ruang BK sore itu — ia tidak duduk dengan postur orang yang siap mewawancarai, tidak membuka map dan mempersiapkan daftar pertanyaan. Ia hanya ada di sana, dengan air putih di meja untuk aku juga, dengan cara seseorang yang tidak terburu-buru menuju apapun.
"Gimana tiga hari ini?" tanyanya, setelah aku duduk.
"Lumayan."
"Lumayan dalam skala berapa ke sepuluh?"
Aku memikirkannya. Pertanyaan itu lebih spesifik dari yang kuduga, dan ada sesuatu yang terasa seperti tantangan kecil di dalamnya — bukan tantangan yang mengancam, tapi tantangan yang mengundang kejujuran yang lebih konkret dari biasanya.
"Enam," kataku akhirnya. "Tapi kemarin sempat tiga."
"Tiga terasa seperti apa?"
Ini pertanyaan yang berbeda dari semua pertanyaan yang pernah orang ajukan kepadaku tentang kondisiku. Bukan apakah kamu baik-baik saja yang jawabannya sudah terprogram. Bukan ada yang salah yang terdengar seperti tuduhan. Tapi: terasa seperti apa. Pertanyaan yang meminta deskripsi, bukan penilaian.
"Seperti semua hal kecil jadi berat," kataku pelan. "Seperti bangun dari kasur adalah keputusan yang harus dipikirkan, bukan tindakan yang terjadi begitu saja. Dan ada semacam... kabut. Bukan kabut yang gelap — lebih seperti filter yang membuat semuanya terasa agak jauh, agak tidak nyata."
Bu Hesti mengangguk pelan, membiarkan kalimatku selesai sepenuhnya sebelum merespons.
"Kamu pernah ceritakan ini ke orang lain? Persis seperti yang baru kamu katakan — tentang kabut itu?"