Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #22

22. Sesi Kedua

Bu Hesti tidak langsung bertanya tentang hal besar.

Itu yang pertama kurasakan ketika masuk ke ruang BK sore itu — ia tidak duduk dengan postur orang yang siap mewawancarai, tidak membuka map dengan daftar pertanyaan. Hanya ada di sana, dengan dua gelas air putih di meja, dengan cara seseorang yang tidak terburu-buru menuju apapun.

"Gimana tiga hari ini?" tanyanya setelah aku duduk.

"Lumayan."

"Lumayan dalam skala berapa ke sepuluh?"

Pertanyaan yang lebih spesifik dari yang kuduga. Ada sesuatu di dalamnya yang terasa seperti undangan untuk lebih jujur dari lumayan yang biasanya cukup untuk menutup pertanyaan.

"Enam," kataku. "Tapi kemarin sempat tiga."

"Tiga terasa seperti apa?"

Ini pertanyaan yang berbeda dari semua yang pernah diajukan kepadaku tentang kondisiku — bukan apakah kamu baik-baik saja, bukan ada yang salah. Tapi: terasa seperti apa. Pertanyaan yang meminta deskripsi, bukan penilaian. Yang mengundang kata-kata, bukan angka.

"Seperti semua hal kecil jadi berat," kataku pelan. "Seperti bangun dari kasur adalah keputusan yang harus dipikirkan, bukan tindakan yang terjadi begitu saja. Dan ada semacam kabut — bukan kabut yang gelap, lebih seperti filter yang membuat semuanya terasa agak jauh, agak tidak nyata."

Bu Hesti mengangguk, membiarkan kalimatku selesai sepenuhnya sebelum merespons.

"Kamu pernah ceritakan ini ke orang lain? Persis seperti yang baru kamu katakan — tentang kabut itu?"

"Tidak." Aku menatap tanganku di pangkuan. "Aku tidak pernah punya kata-kata yang tepat sebelumnya."

"Tapi sekarang punya."

"Sepertinya."

Lihat selengkapnya